Kisah Bocah-Bocah Mati
Korban Kelalaian
Belum lama ini di Surabaya, seorang anak jatuh ke lantai dasar sebuah mall yang berakibat pada kematian. Di Bali juga seorang bocah kelas II SD, mati karena berkelahi dengan temannya pada saat sang guru rapat. Perlukah korban-korban kelalaian orang tua dan guru ini terus bertambah? Apa yang harus dilakukan para orang tua?
PARA orang tua saat ini harus berhati-hati bila ingin mengajak putra-putrinya pergi berbelanja di mall atau pusat pembelanjaan lainnya. Bila tidak, mungkin akan berakibat fatal. Kesalahan sedikit saja, musibah yang tidak diinginkan akan datang.
Kematian Livya Mudita Dewi (6) di pusat pembelajaaan ITC Mega Grosir Surabaya beberapa waktu lalu cukup menjadi cermin. Putri sulung dari Chem Fuk dan Kok Lai, ini meninggal dunia setelah jatuh saat hendak menaiki eskalator di lantai satu ITC Surabaya, Ahad (3/6) lalu.
TIDAK AMAN
Kematian Livya Mudita Dewi ini telah memberikan gambaran bahwa pusat pembelanjan yang ada saat ini sebenarnya tidak menjanjikan sebuah keamanan bagi anak-anak. Hal ini terbukti banyaknya musibah yang menimpa anak-anak yang terjadi di mall dan pusat belanja lainnya.
Sebelumnya di kota Sidoarjo, seorang bocah laki-laki bernama Ade Pradipta (9) juga mengalami hal yang sama. Ade, demikian bocah ini biasa disapa jatuh dari ketinggian di Ramayana Sidoarjo saat hendak naik dari eskalator lantai dua menuju lantai tiga Ramayana Sidoarjo.
Di Jakarta juga seorang anak mati karena tertimpa rak besi di Carefour. Yang terbaru, pada 5 Juni lalu I Kadek Adi Suwanda Putera (8), Bocah kelas II SD 27 Pamecutan, Jl Gunung Cemara, Denpasar Bali mati setelah berkelahi dengan teman sekelasnya M Doni Ardiansyah. Yang memprihatinkan, perkelahian sampai mati itu terjadi ketika semua guru di sekolah tersebut sedang rapat.
Maraknya musibah yang menimpa anak-anak di pusat-pusat pembelanjaan dan di sekolah menurut dr Seto Mulyadi SpA, ketua perlindungan anak pusat adalah akibat kurangnya perhatian masyarakat, orang tua, termasuk juga para pengelola mall. “Dengan banyaknya musibah itu mengindikasikan lemahnya hak perlindungan terhadap anak,” tegasnya.
KURANG PERHATIAN
Kurangnya perhatian para orang tua dan masyakarat terhadap anak-anak ditunjukkan dengan banyaknya tempat umum, seperti mall, pusat pembelajaan, dan fasilitas lainnya yang belum mempunyai fasilitas yang aman bagi anak-anak. “Penyediaan areal yang aman bagi anak-anak masih kurang mendapat perhatian yang serius dari para pengelola tempat umum, termasuk mall,” tuturnya.
Oleh sebab itu, kata laki-laki yang akrab disapa Kak Seto ini, perlu ada perda khusus yang mengatur tempat umum, seperti mall, stasiun, taman. Tempat umum harus menjadi wilayah yang aman untuk anak-anak. Sehingga penting bagi para arsitek untuk mendesain tempat yang aman bagi anak.
Menurut Kak Seto, negara Jepang sepertinya bagus sebagai lahan contoh. Sebab, negara Jepang ternyata memberi perhatian besar guna keamanan anak. Strategi yang dilakukan adalah dengan menempatkan petugas di tempat-tempat yang rawan terjadi kecelakaan anak. Keberadaan petugas berfungsi untuk memberi rasa aman sekaligus bagian dari rasa kepedulian bersama. “Peningkatan keamanan anak di tempat umum, selain perlu diawali dengan Perda yang paling sederhana perlu dibangun kembali komunikasi yang efektif antara orangtua dan anak. Ini harus diawali oleh keluarga, kata Kak Seto.
Sementara itu Dra.Dwi Sarwindah, MS pakar psikologi Untag Surabaya mengatakan bahwa maraknya kecelakaan yang terjadi pada anak-anak di pusat pembelanjaan selama ini cenderung karena orang tua lengah dalam memberikan pengawasan. “Musibah itu terjadi karena anak itu lepas dari pantauan orang tua,” ujarnya pada NURANi.
Menurutnya, memang kecenderungan anak kecil usia balita cenderung memiliki sifat ingin tahu. Anak-anak itu pingin melakukan ekprorasi terhadap segala sesuatu yang baru. “Kalau ada sesuatu yang menarik, mereka ingin mengekroasinya. Namun mereka tidak tahu kalau hal yang baru yang dilihatnya itu berbahaya atau tidak. Inilah petningnya orang tua untuk terus melakukan pendampingan dan pengawasan secara intensif kepada orang tua,” jelasnya.
Di tempat terpisah, Prof Dr H Achmad Zahro MAg, pakar agama Islam mengatakan, musibah atau kecelakaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa sang buah hati di pusat perbelanjaan atau mall, perlu dikaji ulang dan dijadikan pelajaran bagi setiap orang tua agar lebih berhati-hati lagi dalam hal pengawasan. “Saya turut prihatin sekali atas musibah atau kecelakaan yang akhir-akhir ini kerap terjadi menimpa anak-anak di pusat perbelanjaan hingga mereka harus kehilangan nyawa. Padahal secara tujuan, toh sebenarnya keberadaan orang tua mengajak anak-anak mereka adalah untuk bermain dan menyenangkan sang buah hati mereka. Namun, jauh dari yang diharapkan ternyata bukan perasaan gembira yang didapatkan justru duka mendalam yang didapatkan,” jelas Zahro yang juga guru besar di IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Meski demikian, Zahro menjelaskan bahwa apapun yang telah terjadi adalah merupakan musibah dan takdir dari Allah. “Bagamanapun, yang pasti semuanya tidak terlepas dari kehendak dan kekuasaan Allah. Namun, bukan berarti dengan adanya landasan ini, sebagai orang tua atau pihak-pihak yang bersangkutan tidak mengindahkan dan mengacuhkan kejadian-kejadian yang sebenarnya bisa diantisipasi,” ujarnya. 04/lis/fud
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Dr Seto Mulyadi, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA)
Pengawasan Orang Tua Kurang
Di sebuah tempat keramaian, keselamatan anak merupakan tanggung jawab orang tua dan pengelola tempat keramaian. Anak-anak tidak dapat disalahkan meskipun tergolong terlalu aktif maupun mengalami hyper active. Berikut wawancara NURANi dengan Dr Seto Mulyadi.
Bagaimana tanggapan Kak Seto, tentang kerap terjadinya musibah yang menimpa anak-anak di pusat perbelanjaan?
Saya turut prihatin dan berbelasungkawa atas musibah yang menimpa anak-anak di pusat perbelanjaan. Belum begitu lama tentang pemberitaan di media massa yang mengulas seorang anak tewas kerena tertimpa rak besi di Carrefour Mangga Dua, Jakarta. Pada awal bulan ini terjadi lagi musibah yang menewaskan anak karena terjatuh dari lantai 1 di ITC Surabaya. Ada dua konteks atas dua musibah itu, satu dari orang tua yang lalai mengawasi dan kedua kelalaian dari unsur mal.
Mengapa orang tua dinilai lalai?
Pada waktu anak-anak diajak ke sebuah tempat keramaian, keselamatan anak merupakan tanggung jawab orang tua yang mengajaknya. Dua musibah yang terjadi di Mal hingga mengakibatkan tewasnya anak-anak terjadi karena kurang perhatian dan lengahnya pengawasan orang tua pada saat berbelanja. Mungkin saja orang tua terlalu sibuk untuk berbelanja sehingga tidak ada konsentrasi untuk menjaga anaknya. Sebab, kebanyakan orang tua yang berbelanja pikirannya terpusat untuk mempertimbangkan kualitas dan kuantitas barang yang dibeli mulai dari harga, model, corak hingga merek.
Apakah anak dalam hal ini tidak dapat disalahkan?
Anak-anak tidak dapat disalahkan meskipun anak yang tertimpa musibah itu di katogerikan terlalu aktif maupun yang hyper active sekali pun. Sebab, anak-anak belum begitu mengenal akan bahaya disekitarnya. Dalam hal ini, memang agak sulit untuk menjaga anak yang terlalu aktif maupun hyper active. Biasanya anak yang terlalu aktif tidak pernah diam, selalu bergerak, dan bahkan berlari kesana–kemari. Lebih sulit lagi untuk menjaga anak yang hyper active. Sebab, anak ini merupakan suatu kelainan yang dialami anak pada fungsi otak. Biasanya susah untuk dikontrol.
Apa yang harus dilakukan orang tua pada saat anak diajak ke pusat keramain?
Orang tua tidak boleh sedikitpun lengah untuk memperhatikan segala tidak-tanduk anak-anak pada saat di pusat keramaian. Jika perlu, antara anak dan orang tua disatukan dengan seutas tali agar tidak terpisah. Mal yang ada di Indonesia belum bisa dikatakan aman dan kurang memadai.
Lantas, apa yang harus diperhatikan pihak Mal?
Seharusnya pihak Mal harus menempatkan petugas-petugas yang mengawasi daerah yang dinilai rawan. Mereka bisa ditempatkan untuk mengawasi tempat-tempat seperti eskalator atau pagar yang kurang tinggi. Selain itu, ditempatkan jaring pengaman atau peralatan lain yang melindungi dari musibah seperti di ITC Surabaya. Tidak hanya itu, diperlukan juga tanda peringatan yang menjelaskan ruang itu diperuntukkan dewasa atau anak-anak. Misalnya, untuk ruang yang dikusukan dewasa, anak yang masuk harus didampingi orang tua.
Kesimpulannya?
Saya berharap tidak akan terjadi musibah serupa yang menimpa anak-anak di pusat perbelanjaan atau pusat keramaian karena kelalian orang tua dan pihak pengelola mal. Oleh karena itu diperlukan tindakan preventif, baik itu dari orang tua dan pihak pengelola tempat-tempat keramaian.04/agung