Kiat Sakinah Pasangan Rissa Susmex-Arifianto Sudiro
Perbedaan adalah
Sebuah Berkah
Jika ingin selamat dunia akhirat, ingatlah selalu akan rida suami atau istri. Itulah yang dilakukan pasangan selebriti Rissa-Riffi. Keduanya mengaku tak akan melakukan sesuatu jika hal itu tak diridai salah satunya. Begitu pula dalam soal perbedaan, keduanya menganggap hal itu adalah berkah, bukan problema.
Usia pernikahan pasangan ini mungkin masih sangat muda. Keduanya baru menikah pada 23 Maret 2007. Namun, itu bukanlah menjadi alasan bagi keduanya untuk tidak merasa seperti apa indahnya menikah itu. Saat diwawancarai NURANi di kediaman mereka di kawasan Bekasi pekan lalu, pasangan ini tampak banyak bahagia dan tak segan-segan menceritakan liku-liku pernikahan mereka yang saat ini sudah berusia sekitar 2,5 bulan ini.
“Waktu mau nikah kita sama sekali nggak pernah kepikiran untuk takut menikah karena rezeki kita bakal seret setelah menikah nanti. Nggak tuh, sama sekali nggak kepikiran soal itu. Kita berdua percaya kalau rezeki kita sudah diatur sama Allah. Kita berdua bismillah dan lillahi ta alla. Karena kita berniat untuk ibadah lewat pernikahan ini,” ujar presenter Smart Drive di Metro TV ini memberi penjelasan.
Mungkin lantaran benar-benar dilandasi niatan untuk beribadah kepada Allah makanya pasangan ini pun tak banyak ribut-ribut jika keduanya tengah berbeda pendapat. Menurut mereka, beda pendapat itu merupakan sesuatu yang wajar terjadi pada setiap orang. Hal itu tidak perlu disikapi dengan emosi.
“Kalau prinsip kita sih sederhana aja. Beda pendapat itu boleh-boleh saja asalkan kita tetap menghargai satu sama lain begitu. Perbedaan itu kan rahmat. Musti disikapi dengan lapang dada tidak usah emosi. Yang penting kita saling mengisi aja. Apa yang jadi kekurangan saya bisa ditutupi oleh Rissa dan apa yang jadi kekurangan Rissa bisa saya tutupi,” lanjut Riffi.
MENJAGA RIDA SUAMI
Jika Riffi bercerita tentang perbedaan pendapat, maka Rissa justru mengutarakan pujiannya atas sang suami. Rissa mengaku bahagia karena bersuamikan seseorang yang bisa bersikap demokratis terhadapnya. Sebab, dengan sikap ini ia tetap bisa leluasa bergerak bebas lantaran suaminya tidak mengekangnya berkarir setelah menikah seperti sekarang ini.
“Ya, saya sendiri juga tahu batasanlah. Kalau sekiranya apa yang saya lakukan itu kira-kira bisa menyinggung hati suami, ya saya hindari karena sangat tidak menyenangkan sekali mengerjakan sesuatu tanpa disukai suami,” terang Rissa.
Bukan tanpa alasan jika wanita kelahiran Jakarta, 25 April 1979 ini berkata demikian. Pasalnya, ia sendiri pernah mendapatkan bukti sendiri dari apa yang dikatakannya tersebut. “Waktu itu saya pernah izin keluar rumah. Sepertinya waktu itu dia tidak begitu ikhlas saya pergi. Bener lho sehabis makan waktu saya keluar rumah waktu itu, tiba-tiba saja saya jadi kena sakit perut sampai tiga hari. Iseng-iseng waktu saya tanya dia nggak rida ya saya pergi keluar rumah waktu itu. Dia jawab ya. Akhirnya saya minta maaf ke suami saya. Eh, setelah minta maaf waktu itu sakit perut saya jadi sembuh,” tutur Rissa mengenang kejadian itu.
“Kita justru meniru pernikahan zaman nenek-nenek kita dulu lho. Kita nggak setuju sama sebagian orang yang nauzubillah ya ada yang sampai beranggapan seperti ini, ‘Terserah kamu jalan sama siapa saja, asal nanti pulang ke rumah kamu kan istri saya.’ Nggak kami sama sekali nggak setuju itu. Suami istri itu harus saling menjaga. Karena pernikahan itu adalah ibadah, maka tindakan-tindakan yang ada di dalamnya juga harus dilandasi dengan hal-hal yang berbau ibadah juga,” imbuh Rissa. 02-ken/ foto: ken