Tabloid Keluarga Muslim Terbesar
Logo nurani
 
Kisah Bayi-Bayi Mati usai Diimunisasi
KISAH MUALAF

Dr Yahya Yopie Waloni STH MTH, Mantan Pendeta
Dapat Hidayah Lewat Mimpi

Kalau hidayah Allah sudah datang, tidak ada sesuatu yang mustahil. Hal inilah yang dialami Yahya Yopie. Meski dia adalah mantan pendeta, tetapi bersama keluarga besarnya dia menyatakan memilih Islam. Apa yang membuat dia tertariki masuk Islam? Berikut liputannya.

WARGA di kota Tolitoli di pengujung bulan Ramadan 1427 Hijriah belum lama ini, dihebohkan dengan salah seorang pendeta bersama seluruh keluarganya memeluk Islam. Di mana-mana santer dibicarakan soal Pendeta Yahya Yopie Waloni dan keluarganya masuk Islam. Hari itu baru memasuki hari ke-9 lebaran. Kendati terik panas matahari masih mengitari Tolitoli dan sekitarnya, tetapi denyut aktivitas warga tetap seperti biasa. Di salah satu rumah kos, pintunya tampak masih tertutup rapat. Di tempat inilah, Yahya Yopie Waloni (36), bersama istrinya, Lusiana (33) dan tiga orang anaknya tinggal sementara.

Yahya bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan Komarudin Sofa, sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. Hari itulah Yahya dengan tulus mengucapkan dua kalimat syahadat.

Setelah memeluk Islam, nama Yahya Yopie Waloni diganti dengan Muhammad Yahya dan istrinya Lusiana diganti dengan Mutmainnah. Begitupun ketiga anaknya. Putri tertuanya Silvana (8 tahun) diganti dengan nama Nur Hidayah, Sarah (7 tahun) menjadi Siti Sarah, dan putra bungsunya Zakaria (4 tahun) tetap menggunakan nama itu.

MANTAN PENDETA
Mohammad Yahya sebelum memeluk Islam, pernah menjabat ketua Sekolah Tinggi Theologia Calvinis di Sorong tahun 2000-2004. Saat itu juga ia sebagai pendeta dengan status sebagai pelayan umum dan terdaftar pada Badan Pengelola Am Sinode GKI di Tanah Papua, Wilayah VI Sorong-Kaimana. Ia menetap di Sorong sejak tahun 1997. Tahun 2004 ia kemudian pindah ke Balikpapan. Di sana ia menjadi dosen di Universitas Balikpapan (Uniba) sampai tahun 2006.

Yahya menginjakkan kaki di kota Cengkeh, Tolitoli, tanggal 16 Agustus 2006. Hari pertama Yahya pindah di Jalan Bangau itu, orang-orang berdatangan sambil membawa sumbangan. Ada yang menyumbang belanga, kompor, kasur, televisi, Alquran, gorden, dan kursi.

Mereka bersimpati karena Yahya sekeluarga saat pindah dari tempat tinggal pertamanya hanya pakaian di badan. Rumah yang mereka tempati sebelumnya di Tanah Abang, Kelurahan Panasakan adalah fasilitas yang diperoleh atas bantuan gereja. Sehingga, barang yang bukan miliknya ia tanggalkan semuanya.

Penataan interior rumah kos Yahya tampak apik. Di dinding ruang tamu tampak terpampang kaligrafi Ayat Kursi yang dibingkai dengan warna keemasan. Di sisi lain, kaligrafi Allah-Muhammad juga terpampang. Di meja ruang tamu terdapat dua buah Alquran lengkap terjemahannya. Di tengah meja itu, juga masih ada tiga toples kue lebaran.

"Rumah ini saya kontrak sementara. Saya sudah bayar Rp 2,5 juta," rinci Yahya.
Pria kelahiran Manado tahun 1970 ini mengaku sudah bisa melafalkan beberapa ayat setelah beberapa kali diajarkan mengaji oleh Komarudin Sofa. Selain Komarudin, selama ini ia juga mendapat bimbingan dari ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tolitoli, Yusuf Yamani.
"Hanya lima menit saya diajarkan, saya langsung paham. Surat Fatihah saya sudah hafal," ujar Yahya.

KETEMU PENJUAL IKAN
Pak Yahya, begitu sapaan akrabnya, sosok pria yang lahir dari kalangan terdidik dan disiplin. Ayahnya seorang pensiunan tentara. Sekarang menjabat anggota DPRD di salah satu kabupaten baru di Sulawesi Utara. Sebagai putra bungsu dari tujuh bersaudara, Yahya saat bujang termasuk salah seorang generasi yang nakal.

"Saya tidak perlu cerita masa lalu saya. Yang pasti saya juga dulu pernah nakal," tukasnya. Lantaran kenakalannya itulah, mungkin, beberapa bagian badannya terdapat bekas tato. Di lengannya terdapat bekas luka setrika untuk menghilangkan tatonya.

"Ini dulu bekas tato. Tapi semua sudah saya setrika," katanya sambil menunjuk bekas-bekas tatonya itu. Sebelum menyatakan dirinya masuk Islam, beberapa hari sebelumnya Yahya mengaku sempat bertemu dengan seorang penjual ikan, di rumah lamanya, kompleks Tanah Abang, Kelurahan Panasakan, Tolitoli. Pertemuannya dengan si penjual ikan berlangsung tiga kali berturut-turut. Dan anehnya lagi, jam pertemuannya dengan si penjual ikan itu, tidak pernah meleset dari pukul 09.45 Wita.

"Kepada saya, si penjual ikan itu mengaku namanya Sappo (dalam bahasa Bugis artinya sepupu). Dia juga panggil saya Sappo. Tapi dia baik sekali dengan saya," cerita Yahya.

Setiap kali ketemu dengan si penjual ikan itu, Yahya mengaku berdialog panjang soal Islam. Tapi Yahya mengaku aneh, karena si penjual ikan yang mengaku tidak lulus Sekolah Dasar (SD) tetapi begitu mahir dalam menceritakan soal Islam. Pertemuan ketiga kalinya, lanjut Yahya, si penjual ikan itu sudah tampak lelah.

"Karena saya lihat sudah lelah, saya bilang, buka puasa saja. Tapi si penjual ikan itu tetap ngotot tidak mau buka puasanya," cerita Yahya.

MIMPI ANEH
Sampai saat ini Yahya mengaku tidak pernah lagi bertemu dengan penjual ikan itu. Si penjual ikan mengaku dari Dusun Doyan, Desa Sandana (salah satu desa di sebelah utara kota Tolitoli). Meski sudah beberapa orang yang mencarinya hingga ke Doyan, dengan ciri-ciri yang dijelaskan Yahya, tapi si penjual ikan itu tetap tidak ditemukan.

Sejak pertemuannya dengan si penjual ikan itulah katanya, konflik internal keluarga Yahya dengan istrinya meruncing. Istrinya, Lusiana (sekarang Mutmainnah, red) tetap ngotot untuk tidak memeluk Islam. Ia tetap bertahan pada agama yang dianut sebelumnya.
"Malah saya dianggap sudah gila," katanya.

Tidak lama setelah itu, kata Yahya, tepatnya 17 Ramadan 1427 Hijriah atau tanggal 10 Oktober sekitar pukul 23.00 Wita. Ia antara sadar dengan tidak mengaku mimpi bertemu dengan seseorang yang berpakaian serba putih, duduk di atas kursi. Sementara Yahya di lantai dengan posisi duduk bersila dan berhadap-hadapan dengan seseorang yang berpakaian serba putih itu. "Saya dialog dengan bapak itu. Namanya, katanya Lailatulkadar," ujar Yahya mengisahkan.

Setelah dari itu, Yahya kemudian berada di satu tempat yang dia sendiri tidak pernah melihat tempat itu sebelumnya. Di tempat itulah, Yahya menengadah ke atas dan melihat ada pintu buka-tutup. Tidak lama berselang, dua perempuan masuk ke dalam. Perempuan yang pertama masuk, tanpa hambatan apa-apa. Namun perempuan yang kedua, tersengat api panas.

"Setelah saya sadar dari mimpi itu, seluruh badan saya, mulai dari ujung kaki sampai kepala berkeringat. Saya seperti orang yang kena malaria. Saya sudah minum obat, tapi tidak ada perubahan. Tetap saja begitu," cerita Yahya.

Sekitar dua jam dari peristiwa itu, di sebelah kamar, dia mendengar suara tangisan. Orang itu menangis terus seperti layaknya anak kecil. Yahya yang masih dalam kondisi panas-dingin, menghampiri suara tangisan itu. Ternyata, yang menangis itu adalah istrinya, Lusiana.

"Saya kaget. Kenapa istri saya tiba-tiba menangis. Saya tanya kenapa menangis. Dia tidak menjawab, malah langsung memeluk saya," tutur Yahya.

Ternyata tangisan istri Yahya itu mengandung arti yang luar biasa. Ia menangis karena mimpi yang diceritakan suaminya kepadanya, sama dengan apa yang dimimpikan Mutmainnah.

"Tadinya saya sudah hampir cerai dengan istri, karena dia tetap bertahan pada agama yang ia anut. Tapi karena mimpi itulah, malah akhirnya istri saya yang mengajak," tandasnya. Alhamdulillah, sekarang kita semua bias bersatu dan seiman. 04

 
 
Makam Elva (kiri) dan makam Zahrodin

Haruskah imunisasi justru berakibat kematian bayi? Pertanyaan itu kembali muncul usai kabar kematian Zahrodin dan Elva Yunita. Benarkah itu reaksi obat usai imunisasi atau ada kesalahan bidan? Berikut liputannya.

TAK banyak yang dikatakan Jumirah (33), warga Dusun Ngipik, Desa Candi, Ambarawa, Kabupaten Semarang ini. Istri Ahmad Said (38) ini masih larut dalam duka yang amat dalam. Semua itu karena anak ketiganya Zahrodin (9 bulan) meninggal dunia setelah disuntik imunisasi di Puskesmas Pembantu Candi, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Ketika ditemui NURANi, Sabtu (09/06), wajah Jumirah masih terlihat pucat dengan mata yang berkaca-kaca menandakan ia habis menangis.

“Kami sangat kehilangan anak kami yang lucu, Mas,” paparnya sedih. Diceritakannya, Jumat (25/05) Jumirah membawa bayinya beserta beberapa tetangganya yang memiliki bayi datang berbondong-bondong ke  Puskesmas Pembantu Candi untuk mendapatkan imunisasi gratis. Pada saat itu Zahrodin akan diimunisasi campak. Semula keadaan berlangsur lancar, namun setibanya di rumah, suhu badan Zahrodin panas, badannya lemah, serta mengeluarkan keringat dingin. Melihat gejala kurang baik itu, Zahrodin diberi minum obat pemberian bidan puskesmas.
 
“Karena badannya (Zahrodin, red) panas, saya beri minum obat pemberian bidan puskesmas, tetapi kondisinya semakin lemah,” katanya.

Keesokan harinya suhu badan Zahrodin tidak kunjung menurun. Jumirah pun membawa anaknya ke Rumah Sakit Ambarawa. Dua hari lamanya Zahrodin menjalani perawatan di rumah sakit tersebut sebelum akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Kariadi Semarang. Sekitar satu minggu Zahrodin menjalani perawatan tetapi akhirnya, Minggu (03/06) sekitar pukul 20.00 Wib Zahrodin meninggal dunia.

“Akhirnya nyawa anak saya tak tertolong lagi,” kata Jumirah sedih.    Menurut Jumirah, setelah diimunisasi, anaknya diberi obat oleh bidan puskesmas sebanyak empat tablet.

“Tiga di antaranya sudah diminum anak saya, satu tablet lainnya diambil dokter atau tim kesehatan,” katanya.
 
Kepergian Zahrodin juga menyisakan duka bagi Zaini (35), pamannya. Zaini merasa sangat kehilangan kepergian kemenakannya. Sebelum kejadian nahas itu terjadi, Zaini sempat bernadar akan menggelar syukuran kecil-kecilan jika keponakannya itu sudah bisa berjalan. Namun belum terwujud cita-cita Zaini menyaksikan keponakannya berjalan, Allah telah mengambil dia untuk selamanya.
“Rencananya saya akan memfoto keponakan saya saat dia sudah bisa jalan, namun siapa sangka semua berakhir seperti ini,” ratapnya sedih.

KEJANG-KEJANG
Duka serupa juga dirasakan orangtua Elva Yunita (3 bulan), Suyamto (40) dan Jamiah (37). Ketika NURANi menyempatkan diri bertakziah di rumahnya di Dusun Kalibendo, Desa Candi, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Suyamto terlihat duduk termenung di sudut ruangan. Pandangannya kosong seolah menanggung beban yang teramat berat.

Setelah menghela napas panjang, Suyamto menceritakan, Jumat (25/05) lalu, Elva, sapaan untuk anaknya, mengikuti program imunisasi Depteri Pestulis Titanus (DPT) di Puskesmas Pembantu Candi. Di sana dia diimunisasi oleh bidan setempat berupa Depteri Pestulis Titanus (DPT).

Sama kejadiannya dengan Zahrodin, setelah disuntik imunisasi, suhu tubuh Elva juga panas. Kemudian oleh ibunya diberi minum obat pemberian dari bidan. Namun setelah diminumkan justru kondisinya melemah, bahkan malam harinya tubuh Elva sempat mengalami kejang-kejang.

Esok harinya, Elva dilarikan ke RS Ambarawa dan sempat menginap selama 3 hari. Karena tak kunjung membaik, Elva akhirnya dirujuk ke RS Kariadi dan sempat menjalani opname selama sepekan hingga jiwanya tidak tertolong, Senin pagi (04/06) sekitar pukul 09.30 Wib.

“Kami masih terpukul dengan kejadian ini Mas,” ungkap Suyamto.

Di tempat yang sama, Ahmad Zaini, Adik kandung Suyamto menolak untuk memperpanjang kasus ini. Ketika disinggung apakah ada maksud untuk mengadukan masalah ini ke pihak berwajib, Ahmad Zaini menggelengkan kepalanya.

DISELIDIKI
Terkait dengan kasus itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, dr Sulthoni MKes membantah bahwa meninggalnya dua balita itu bukan karena imunisasi. “Sekarang sudah ditangani tim kesehatan dari Pemprov Jateng dan Kabupaten Semarang. Kasus ini baru dalam penyelidikan tim kesehatan untuk mengetahui penyebab kematian dua balita tersebut,” kilahnya.

Lantas, apa yang menyebabkan dua balita itu mengalami kejang-kejang dan panas-dingin setelah imunisasi? Kata Sulthoni, sudah wajar setelah imunisasi seorang balita akan mengalami demam dan panas. Itu akibat reaksi obat imunisasi yang dimasukkan dalam tubuh si bayi. Obat itu akan membentuk sistem kekebalan dalam tubuh biar si bayi tidak mudah kena penyakit.  Dr Sulthoni menambahkan, pihaknya telah memeriksa vaksin maupun obat penurun panas yang diberikan kepada kedua balita.

“Tim sudah terjun untuk memeriksa vaksin dan obat yang diberikan. Saat ini vaksin dan obat sudah dibawa ke lab,” tegasnya.

Dia menyebutkan, kasus kematian balita pascaimunisasi tersebut merupakan yang kali pertama terjadi di Kabupaten Semarang. Sulthoni mengimbau agar masyarakat tidak resah dengan kejadian tersebut. Karena faktor penyebabnya bukan karena kesalahan vaksin maupun obat yang diberikan pascaimunisasi.

“Imunisasi sudah menyelamatkan berjuta-juta masyarakat Indonesia, jadi dengan adanya kejadian ini masyarakat tidak perlu takut,” tambahnya. Tapi pertanyaannya, mengapa tim dokter tidak bisa memberikan pertolongan untuk kedua bayi itu? Tentu harus ada jawaban yang benar dan menjawab kehawatiran ibu-ibu yang lain. 05/yun

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Jumirah (33), Ibunda Zahrodin:
Bidan Harus Hati-hati!

Apa yang terjadi ini sudah kami anggap sebagai takdir atas anak saya. Kami tidak akan menuntut pihak puskesmas. Biarkan saja si kecil (Zahrodin, red) tenang di alam kubur.

Saya berharap, semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Cukup anak saya yang terakhir menjadi korban. Pihak bidan puskesmas selanjutnya harus lebih ekstra hati-hati dalam mengimunisasi bayi karena kondisi fisik bayi masih lemah. 05/yun

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Suyamto, Ayah Elva Yunita:
Sebelum Diimunisasi, Elva Sehat

Ketika istri saya mengajak Elva untuk diimunisasi di puskesmas, saya tidak menaruh kecurigaan atau perasaan waswas karena sebelumnya anak juga pernah diimunisasi di puskesmas tersebut dan tidak terjadi apa-apa. Saya tidak menyangka bahwa akhir dari imunisasi tersebut menyebabkan anak saya meninggal dunia.

Anak saya itu sehat. Saya ingat ketika dibawa ke puskesmas untuk imunisasi, tubuhnya segar bugar. Namun, sepulang dari puskesmas saya melihat tubuh anak saya lemas dengan demam yang tinggi. Kami sekeluarga sudah ikhlas menerima kenyataan ini. Mungkin Allah memang memberi amanah kepada kami untuk merawatnya selama tiga bulan. Doakan anak saya Mas. 05/yun

 

Kisah Hikmah ...

Jasad Rentenir Dililit Ular

Semasa hidup Tutik memang rentenir kejam. Tak hanya membungakan tinggi, telat bayar sebentar pun, ia tak segan menyita rumah orang yang berutang kepadanya. Naudubillah, saat mati jasadnya dililit ular. Itukah azabnya? Wallahu a’lam.

“Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raaji’uun,” Bu Tutik (bukan nama asli) meninggal dunia. Mari kita rawat jenazahnya dengan baik!” begitu seru Ustad Zainal lewat pengeras suara di sebuah musala di kawasan Surabaya utara, Kamis, sekitar pukul 08.00 Wib, dua pekan lalu.

Setelah beberapa kali mengumumkan, Ustad Zainal kemudian pergi ke rumah duka yang terletak di perempatan jalan di perkampungan itu.
Satu jam berlalu, rumah almarhumah masih tampak sepi. Tak banyak warga yang datang untuk berziarah.

“Ustad, warga kok belum banyak yang datang?” tanya Sokih, suami Tutik.
“Iya, nggak biasanya seperti ini. Padahal tadi sudah saya umumkan beberapa kali,” tegas Ustad Zainal.

Sementara itu, beberapa warga membincangkan kematian Tutik. Hampir semua warga yang sudah puluhan tahun tinggal di desa itu tak sedih atas kematian Tutik.
“Loh Bu, apa sudah mendengar kalau Bu Tutik telah tiada tadi pagi?” tanya Anita, salah satu pedagang sayur di pasar dekat daerah itu.

“Aku sudah tahu. Tapi aku malas ke sana, dia kan jahat,” ujar Maryam, warga setempat.

Praktis yang datang di rumah duka yang terlihat hanya warga pendatang yang baru tinggal satu sampai dua tahun. Sementara warga lama yang terlihat hanya para pengurus kematian. Hingga tiga jam berlalu, jenazah Tutik tak juga diurus. Para petugas yang biasanya bertugas memandikan jenazah wanita belum ada yang datang kecuali Hj Mutmainnah.

“Pak Ustad, mana warga yang lain? Tidak mungkin saya bisa memandikannya sendirian, tolong minta bantuan warga lainnya,” pinta Hj Mutmainnah kepada Ustad Zainal.

Sambil menunggu warga datang, Hj Inah, sapaan Hj Mutmainnah, merangkai bunga melati untuk ditaruh di atas keranda. Juga memberi wewangian untuk bahan memandikan jenazah.

Satu dua warga mulai datang, Hj Inah pun memutuskan untuk segera memandikan jenazah. Di tengah-tengah ia memandikan, muncul seekor lintah dari balik bunga. Lintah hitam sebesar ibu jari orang dewasa itu bergerak mengeliat.

“Ya Allah, ada lintah!!!” teriak Hj Inah nyaris melonjak dari tempatnya berdiri. Sinta dan Aminah yang membantu memandikan jenazah Tutik pun bukan main terkejutnya. Di antara bunga yang sudah terangkai itu muncul dua lintah besar hitam.

“Dari mana lintah itu? Pahadal tadi sudah dibersihkan satu per satu,” ujar Hj Inah. Sementara Sinta dan Aminah hanya tertegun dan saling pandang. Setelah itu, Hj Inah serta Sinta dan Aminah kembali memandikan jenazah Tutik. Satu jam lebih mereka memandikan. Anehnya, jenazah itu tak juga bersih.

“Bu Haji, kotorannya kok tidak hilang-hilang ya. Pahadal kita sudah membersihkan beberapa kali,” ujar Sinta tak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Hj Inah pun geleng-geleng kepala. Sejak 10 tahun memandikan jenazah, baru kali ini ia mengalaminya.

“Iya, kotorannya tak habis-habis,” katanya.

Keanehan tak hanya terjadi di rumah duka. Di arena pemakaman, proses penggalian liang kuburan untuk jenazah Tutik pun bermasalah. Mustari, salah satu petugas penggali kubur menceritakan bahwa tanahnya keras seperti batu. Tak hanya itu, pada saat menggali, banyak sekali ditemukan batu dan kaca berserakan.

“Kok aneh begini ya Cak (sapaan pria di Surabaya)?” tanya Mustari kepada Narto, temannya.

“Ia benar, padahal tanahnya kuburan yang lain tidak seperti ini,” seru Narto tak kalah heran.

DILILIT ULAR
Setelah selesai dimandikan, dikafani, dan disalati, jenazah Tutik segera dibawa ke lokasi pemakaman. Begitu jenazah sampai di area pemakaman, ternyata liang kuburnya belum selesai digali.

“Lho, kok belum selesai Pak? Kan sudah dari tadi pagi?” ujar Ustad Zainal sambil menahan terik panas tengah hari itu.
“Wah, tidak tahu Ustad. Tanahnya keras sekali. Tidak hanya itu banyak sekali kaca-kaca. Kaki dan tangan saya sampai berdarah,” seru Mustari.

Setengah jam kemudian, proses penggalian selesai dilakukan. Para warga pun kemudian bersiap-siap memasukkan jenazah ke dalam liang kubur. Sesaat berlalu, azan pun dikumandangkan. Tapi tiba-tiba semua berteriak kaget. Seekor ular hitam besar keluar dari arah belakang. Ular itu kemudian masuk ke dalam liang lahat.
“Masya’ Allah,” teriak mereka.

Suasana menjadi panik, beberapa orang yang ada di dalam liang kubur berebut naik ke atas. Mereka tak habis pikir, mengapa ular itu tiba-tiba melilit jenazah yang sudah terbaring itu di dasar liang kubur itu.

Sesaat kemudian, warga pun mengeluarkannya. Suasana kembali tenang dan proses pemakaman pun dilanjutkan.

“Aneh, kok bisa ya ada ular masuk? Bertahun-tahun saya mengantar jenazah ke kuburan, baru kali ini melihatnya,” bisik beberapa warga.
Mencermati kasuk-kusuk itu, Ustad Zainal berusaha menasihati, “Sudalahlah, barangkali ular itu mau lewat. Jangan dibesar-besarkan.”

RENTENIR
Kematian Tutik dengan segudang keanehan menjadi bahan pembicaraan warga. Masa lalu Tutik yang kelam pun terungkap.
“Barangkali itu karena masa lalunya sendiri,” ujar Sinta, tetangga almarhumah berkomentar.

“Lho, ada apa dengan Bu Tutik dulu?” tanya Aminah.

Sinta yang tahu betul perilaku Tutik di masa mudanya kemudian menceritakannya.
“Dia dulu seorang rentenir yang sangat kejam,” katanya.

Suatu malam, kata Sinta, Tutik dengan beberapa pembantunya mendatangi rumah Taufiq untuk menagih utang.

“Pak Taufiq, aku kemari ingin menagih utang. Jangan sekali-sekali menghindar lagi. Sebab utang Anda sudah sudah banyak,” ujar Tutik dengan angkuh. Taufiq saat itu masih belum bisa membayar. Sebab ia masih memikirkan kondisi anaknya yang sakit di rumah sakit.

“Aku mohon maaf Bu. Kali ini aku belum bisa membayar. Saya pakai mengobati anak saya,” kata Taufiq memohon.

“Tidak bisa, malam ini kamu harus bayar. Utangmu sudah Rp 10 juta,” bentak Tutik. Taufiq pun terkejut seraya berkata, “Lho kok jadi Rp 10 juta, kan utangku kan cuma Rp 5 juta?”

“Itu sama bunganya,” tegas Tutik dengan nada keras.

“Ya sudah kalau ngak bisa membayar, maka tanah dan rumahmu ini aku sita. Satu minggu lagi kamu dan keluargamu harus keluar dari rumah ini,” tegas Tutik.

“Yang saya tahu cuma itu. Banyak warga lain yang mengalami hal lebih buruk dari itu,” ujar Sinta. 05/lis

 

 
     
               

             

 
             
Copyright © 2007 Tabloidnurani.com. All rights reserved