Heboh, Pria Berjilbab
di Pengajian Wanita
Kota Malang kembali gempar. Kalau sebelumnya disebabkan karena segolongan orang menghina Alquran, kini kejadian hampir sama terjadi di Masjid Assalam Bendungan, Rian Kanan, Malang. Jamaah pengajian muslimah di masjid tersebut gempar karena dimasuki laki-laki bercadar dengan berpura-pura seperti wanita. Bagaimana hal itu terjadi? Apa motifnya? Berikut liputannya.
AHAD (15/4) sekitar pukul 10.00 Wib, seperti biasa jamaah pengajian muslimah Masjid Assalam melakukan kegiatan rutin. Jamaah pengajian yang diasuh Ustad Abdullah Said Alhadromy sebenarnya berlangsung seperti biasa. Namun, pagi itu ada peristiwa yang cukup unik tetapi membahayakan bagi kerukunan umat beragama. Ada seorang laki-laki berjilbab dan mengenakan cadar ikut hadir di tengah-tengah pengajian Ahad pagi itu.
“Para jamaah perempuan curiga karena tingkah lakunya sangat aneh. Ketika ditanya, suaranya pelan dan mirip suara laki-laki. Dan pandangannya tertuju ke semua tempat. Pokoknya sangat mencurigakan begitulah,” ujar Ustad Abdullah. Namun, para jamaah perempuan itu tak lantas melapor ke para jamaah laki-laki. Namun, mereka saling membicarakan mengenai sosok jamaah yang tak dikenal ini dengan sesama jamaah.
“Para jamaah perempuan ini sebetulnya masih belum tahu kalau sebenarnya penyusup ini sebenarnya seorang laki-laki,” tegasnya.
PENYUSUPAN
Memang saat itu ada penyusupan yang dilakukan Thomas Prasetyo, WNI keturunan yang tinggal di Bareng Selatan, Malang. Dari identitasnya diketahui bahwa laki-laki ini beragama Kristen. Pengajian yang digelar setiap hari Ahad, pukul 08.00 s.d. 10.00 Wib itu berjalan lancar sebagaimana semestinya. Ustad Abdullah dengan gamblang menerangkan materi-materi pengajian. Sampai akhirnya pengajian usai, Thomas yang melakukan penyusupan ini dengan cepat keluar. Melihat gelagat yang sangat mencurigakan, sebagian jamaah perempuan kemudian melakukan inisiatif melapor ke jamaah laki-laki. Setelah mendapat laporan akan hadirnya jamaah yang mencurigakan, jamaah laki-laki kemudian membuntuti dari belakang.
Kecurigaan itu semakin kuat setelah diketahui bahwa penyusup itu ternyata memakai sepatu laki-laki. Kegiatan penyusupan itu terkuak ketika Thomas tidak lantas pulang. Thomas kembali masuk masjid tanpa melepas sepatunya. Dengan melihat keanehan itu akhirnya para jamaah menangkap Thomas dan membuka kerudung dan cadar yang dikenakan.
“Jamaah baru tahu setelah kerudung dan cadarnya dibuka. Ternyata dia laki-laki,” tegasnya. Melihat kenyataan seperti itu, para jamaah pun berang. Keributan kecil terjadi. Untunglah, para jamaah asuhan Ustad Abdullah ini dapat menahan diri. Ustad Abdullah sendiri bersama jamaah lain membawa Thomas ke pihak yang berwajib.
“Ya begitulah kronologi kejadiannya. Kami tidak tahu apa sebenarnya motif melakukan semua ini. Namun, saat ditanya oleh jamaah dia bilang kalau ingin belajar Islam,” kata Ustad Abdullah.
PAKAI CADAR
Terkuaknya penyusupan yang dilakukan Thomas Prasetyo ini tentu saja membuat masyarakat Muslim, khususnya kota Malang kembali harus mengerutkan dahi. Pasalnya, persoalan penistaan agama yang dilakukan oleh sekelompok orang di Hotel Asida, Batu, Malang itu kini belum selesai. Kasusnya masih dalam proses pihak kejaksaan setempat, kini harus ditambah masalah baru.
Rentetan kejadian ini tentu saja membuat berbagai pihak bertanya-tanya, apa motif di belakang semua ini. Apakah perbuatan Thomas ini hanya sepenggal kejadian yang ingin belajar tentang Islam? Ataukah perbuatanya itu bagian kecil dari grand design yang dilakukan kelompok tertentu?
Menurut Mashud, pakar Kristolog asal Sidoarjo, apa yang dilakukan Thomas Prasetyo ini merupakan bagian dari skenario besar yang dilakukan oleh kelompok-kelompok non-Islam.
“Mereka ingin membuat kota Malang jadi tidak tenang. Dan ketentraman antarumat beragama yang selama ini terjalin sangat kuat di kota Malang itu jadi pudar. Itu yang mereka inginkan,” kata Mashud menganalisis. Oleh sebab itu, kata Mashud, pengakuan Thomas Prasetyo yang ingin belajar Islam tidak bisa begitu saja dibenarkan.
JARINGAN INTERNASIONAL
Memang pengakuan Thomas yang ingin belajar Islam ternyata harus diabaikan. Secara logika dengna melihat fakta-fakta yang ada sulit sekali alasan ingin belajar Islam dibenarkan.
“Kalau seandainya dia ingin betul-betul belajar Islam, lalu kenapa harus menyamar jadi perempuan dengan memakai kerudung dan cadar? Padahal di sana itu ada jamaah laki-laki,” tegas Mashud.
Tidak hanya itu saja. Saat dilakukan penggeledahan, para jamaah juga menemukan ponsel Thomas yang isinya berbahasa Inggris. Dalam SMS yang berbahasa Inggris itu lebih banyak memberikan pesan untuk penyebarkan ajaran Yesus. Dari bukti-bukti SMS ini membuat pengakuan Thomas yang ingin belajar Islam semakin menipis. Menurut Mashud, penyusupan yang dilakukan Thomas ini ada kaitannya dengan kasus VCD training doa yang dilakukan oleh LPMI di Hotel Asida Batu.
“Keduanya sangat erat dengan agenda jaringan Kristiani internasinal,” ujar Mashud. Bukti-bukti adanya permainan internasional ini secara kasat mata bisa dilihat. Munculnya SMS berbahasa Inggris dengan isi tentang misi-misi ajaran Yesus. Juga diketahui bahwa Thomas adalah seorang aktivis Katholik yang mengadakan persekutuan doa keliling.
“Melihat semua ini kami menyarankan umat Islam, terutama umat Islam yang ada di kota Malang harus hati-hati. Mereka ingin membuat umat Islam marah dan kemudian melakukan onar dengan membakar gereja-gereja. Ini bagian dari misi mereka,” urai Mashud. 04/lis