Tabloid Keluarga Muslim Terbesar
Logo nurani
Astagfirullah, Lahir Caesar Kaki Bayi Patah
 
KISAH MUALAF

Heny Widiastuti (Elizabeth Heny Widiastuti)
Tertarik Konsep Ketuhanan

Hidayah Allah memang tidak bisa diduga kapan dan bagaimana datangnya. Seperti yang dialami Heny Widiastuti ini. Setelah melalui perdebatan batin yang panjang, akhirnya Heny mengikrarkan diri menjadi seorang muslimah. Berikut penuturannya kepada M. Yunan Muzakki, wartawan NURANi di Semarang.

TAK henti-hentinya aku berucap syukur kepada Allah SWT. Semua itu karena kini aku telah menjadi seorang muslimah sejati. Sungguh tujuan hidup yang telah lama aku impikan. Namaku Heny Widiastuti yang terlahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Tiga puluh empat tahun yang lalu aku dilahirkan dari sebuah keluarga penganut agama Katholik yang taat di daerah Perumahan Tlogosari, Semarang. Sejak kecil aku tumbuh dan berkembang dengan doktrin agama Katholik.

Bahkan, doktrin yang tertanam kuat tersebut membuatku berpikiran negatif tentang Islam. Aku beranggapan, Islam adalah agama yang penuh dengan kekerasan. Anggapan itu bertambah subur saat aku mengenyam pendidikan formal Kristen mulai dari TK sampai SMA. Baru setelah aku kuliah di Stikubank, alam pikiran kolotku tentang Islam mulai terbuka lebar. Aku pun mulai tersadar dan mulai berpikir serius tentang apa yang selama ini merisaukan hati. Jujur, aku merasakan sebuah dorongan kuat dari hati nurani untuk menjadi seorang mualaf. Entah dari mana niatan itu datang, namun seringkali mengganggu pikiranku.

KONSEP KEESAAN ISLAM
Selanjutnya secara diam-diam aku mulai belajar tentang agama Islam. Bermula dengan membaca Alquran terjemahan yang aku pinjam dari rekan kerjaku, Budi Wahyono, yang kini menjadi suamiku. Dari Alquran tersebut aku mulai tahu tentang ajaran Islam yang sesungguhnya. Terlebih setelah membacanya, anggapan “miring” terhadap Islam yang sebelumnya tertanam kuat di otakku menjadi menghilang berganti dengan ketakjuban. Terutama dengan konsep Keesaan Tuhan.

Dalam Islam hanya mengenal satu Tuhan yang wajib disembah, yakni Allah SWT. Konsep Keesaan Tuhan tersebut tidak aku temukan dalam agamaku sebelumnya yang mengenal adanya trinitas. Akhirnya aku berkesimpulan bahwa citra jelek dalam Islam itu bukan karena ajarannya yang salah, tetapi lebih kepada kejahatan individu yang tidak memahami Islam secara sempurna. Ketakjuban itu menggiringku untuk menjadi seorang mualaf.

Dengan segala persiapan mental yang kuat, aku menemui seorang ustad untuk membimbingku. Selang beberapa waktu berikutnya akhirnya aku benar-benar mantap untuk bersyahadat. Namun, niatan itu tidak segera terwujud. Saat akan disyahadatkan, ustad tersebut memberikan “wejangan” mengenai agama Islam. Semua dijelaskan mulai dari sejarah Nabi Muhammad mendapatkan wahyu sampai perkembangan Islam terkini. Di akhir wejangan tersebut, ustad bertanya kepadaku, “Apakah kamu benar-benar mantap masuk Islam tanpa ada paksaan?”

Mendapatkan pertanyaan itu, ketekatanku yang semula penuh kini mulai berkurang, saat itu juga aku mulai sangsi apakah keputusan ini memang yang terbaik bagiku. Akhirnya malam itu aku menyerah, aku masih belum siap untuk menjadi mualaf. Aku pun kembali lagi ke rumah dan beraktivitas layaknya tidak pernah terjadi apa-apa dengan batinku. 

MASUK ISLAM
Beberapa waktu kemudian, kegundahan hatiku mulai menggangu konsentrasiku. Kucoba mengungkapkan kegundahanku kepada Mas Budi. Kami pun semakin akrab, aku merasa nyaman dengannya yang tak mempedulikan status agamaku saat itu. Kami pun akhirnya membina hubungan lebih serius. Suatu saat aku berkata kepada Mas Budi ingin sekali menjadi seorang muslimah sejati. Keinginan itu langsung direspon baik olehnya, ia terlihat sangat bahagia dengan niatku itu. Atas inisiatif dari Mas Budi, akhirnya kami datang ke masjid raya baiturrahman Semarang untuk berkonsultasi masalah agama.

Hari semakin hari, niatku makin bulat dan akhinya pada tanggal 20 Maret 2007, aku resmi menjadi mualaf. Dengan dibimbing KH Muslim Nur Aziz, aku mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Raya

Baiturrahman Semarang. Orangtuaku semula kaget dengan keputusanku. Namun akhirnya mereka tak mempersalahkannya. Alhamdulillah, mereka hanya berpesan bahwa agama jangan dibuat mainan, jika aku telah meyakini Islam maka mereka menyuruhku agar menjalani ajaran Islam dengan benar dan setulus hati. Kebahagiaanku semakin bertambah setelah beberapa bulan berikutnya, tepatnya tanggal 12 Mei 2007, aku dipersunting Mas Budi menjadi istrinya. Selanjutnya hari-hari kami sangat bahagia, suamiku membimbingku dalam ibadah. Kami mulai membiasakan diri salat berjamaah di rumah, Mas Budi sebagai imam salat sedangkan aku makmumnya. Jika ada sesuatu yang kurang mengerti dalam Islam, suamiku senantiasa memberikan pengarahan kepadaku. Bahkan kini aku sudah banyak hafal surat-surat pendek dalam Alquran dan beberapa amalan doa sehari-hari. Doaku yang selalu kupanjatkan adalah memohon ampunan dosa atas apa yang aku lakukan selama berpuluh-puluh tahun ini. Juga semoga rumah tangga kami langgeng menjadi keluarga yang sakinah, Amin. 04/yun

bayi   bayi 1

Astagfirullah, dugaan malapraktik kembali muncul. Kali ini menimpa seorang bayi di Kudus. Lewat operasi caesar, tulang paha kanan bayi itu patah. Bagaimana itu terjadi? Berikut liputannya.

Malang nian nasib yang dialami pasangan suami istri, Samudi (46) dan Supatmi (42), warga Desa Gulang RT VI RW IV No. 106, Kecamatan Mejobo, Kudus. Anak keenam yang dilahirkan Ahad (20/5) malah mengalami patah tulang paha kanan setelah menjalani operasi caesar di RSU Mardi Rahayu, Kudus.

Menurut Supatmi, peristiwa yang memilukan tersebut bermula ketika dirinya menjalani proses persalinan di RS Mardi Rahayu. Setelah melahirkan, ibu yang bekerja di sebuah pabrik rokok merek terkenal di Kudus ini mengaku tidak diperbolehkan bertemu dengan buah hati yang baru dilahirkannya. Bayi laki-laki itu langsung dipisahkan dengan ibunya yang sempat mengalami masa kritis. Lima hari kemudian ibunya sudah diperbolehkan pulang. Namun, bayi berbobot 2,8 kg dan panjang 48 tersebut masih harus dirawat yang intensif di rumah sakit tersebut.

Beberapa hari kemudian, Supatmi dipanggil pihak rumah sakit yang mengkonfirmasikan bahwa bayinya mengalami patah tulang di bagian paha. Mendengar keterangan seperti itu, sontak Supatmi panik. Seolah tak mempercayai namun itulah yang terjadi. Supatmi langsung membawa pulang bayinya dan membawanya ke sangkal putung.

“Ketika melihat kondisi lebam dengan warna kebiru-biruan di paha anak saya, maka saya membawanya ke sangkal putung,” ujarnya. Alhasil, lebam di paha bayi yang diberi nama M. Sahrul Anam tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda kesembuhan.

“Sejak pulang dari rumah sakit bayi saya rewel terus, mungkin karena tulang pahanya patah dan tulangnya menyembul keluar menembus kulit. Setelah ditangani sangkal putung, anak saya tidak rewal lagi dan bisa tidur lelap,” kata Supatmi, Rabu (30/5) ditemui NURANi di rumahnya.

OPERASI CAESAR
Dengan mimik sedih Supatmi menuturkan, patah paha anaknya itu kemungkinan terjadi saat bayinya ditarik dari rahimnya ketika operasi caesar.

“Dokter mengatakan, anak saya mengalami patah tulang. Butuh waktu satu bulan untuk menyembuhkannya,” ujarnya. Namun, yang disesalkan Supatmi mengapa hal tersebut bisa terjadi. Ia menduga jika pihak dokter tidak melakukan tugasnya dengan baik. Terlebih yang membuat dirinya geram adalah sikap pihak rumah sakit yang seolah lari dari tanggung jawab.

“Dokter mengatakan hal tersebut bukan kesalahannya, tetapi jika dipikir lagi mana mungkin bayi yang baru lahir harus menderita patah tulang seperti ini?” katanya sembari memperlihatkan paha kanan bayinya yang masih terbalut perban.Perhatian dari pihak rumah sakit juga dinilai lamban. Hal tersebut karena baru hari Rabu (30/05) pihak rumah sakit datang menjenguk ke rumahnya.

“Saya kecewa dengan pelayanan rumah sakit itu. Saya kapok kembali lagi ke sana,” sumpahnya. Sebenarnya pihak rumah sakit menawarkan perawatan dan kesembuhan bagi bayi malang tersebut, asalkan Supatmi mau dan bersedia mambawa bayi mungil itu ke Rumah Sakit Mardi Rahayu. Namun, Supatmi telanjur tidak percaya dengan pelayanan rumah sakit tersebut.

“Saya tidak menerima tawaran rumah sakit, bayangkan baru seminggu dirawat di sana tulang anak saya patah, mungkin kalau sebulan kaki anak saya bisa putus,” ketusnya.

Sementara itu, suaminya, Samudi, juga mengaku kecewa dengan pelayanan rumah sakit tersebut. Sumadi yang juga bekerja di pabrik rokok tersebut berniat akan menggugat pihak rumah sakit karena telah melakukan malapraktik yang menyebabkan bayinya mengalami patah tulang. Namun niatan itu masih menunggu kesembuhan anaknya tersebut.  Samudi yang harus mengeluarkan biaya Rp 5,4 juta selama proses persalinan tersebut merasa tidak diberi pelayanan yang baik.

“Saya masih bingung memikirkan keadaan bayi saya,” ucapnya.

BUKAN MALAPRAKTIK
Secara terpisah, Direktur RS Mardi Rahayu, Dr Basuki Wibawa menyatakan, pihaknya sudah melakukan upaya yang benar menyangkut bayi Supatmi. Kasus tersebut bukan malapraktik, melainkan kasus letak lintang kasep.

“Jadi sewaktu dibawa ke sini, kondisi janinnya sudah jelek karena sudah banyak air ketuban yang keluar. Selain itu, kasusnya termasuk letak lintang kasep, di mana bagian tubuh anak yang akan keluar adalah tangannya terlebih dahulu,” kata Basuki saat konferensi pers, Rabu siang.

Hal ini dikarenakan air ketuban yang berfungsi mempermudah proses kelahiran sudah habis, sebelum kepala bayi tersebut keluar.

“Nah, karena air ketuban tersebut sudah habis, padahal kontraksi tersebut masih terus berlangsung, ada beberapa bagian tubuh bayi yang sudah sampai ke vagina,” jelasnya.

Dari sinilah, akhirnya disepakati untuk mengeluarkan bayi dengan operasi caesar. Proses operasi inipun tidak berlangsung mulus. Pasalnya kontraksi otot rahim terus yang akhirnya menghimpit jabang bayi.

“Kata dokter yang menangani (dr Pamor SS, spesialis kandungan, red), bayi tersebut terjepit oleh otot rahim,” jelas Basuki seraya meminta maaf karena dokter yang menangani tidak bisa hadir dalam konferensi pers tersebut.

Hanya saja mengapa bayi harus menderita patah kaki? Dijelaskan oleh Basuki, kasus ini sebenarnya sudah banyak terjadi. Dan risiko untuk letak lintang kasep adalah patah tulang selangkaangan atau patah tulang kaki.

“Apalagi kondisi anaknya sudah mulai melemah dan hampir meninggal. Nah, seorang dokter harus menyelamatkan nyawa anak tersebut meskipun akhirnya kakinya yang patah,” lanjutnya. Basuki menegaskan secepat mungkin, bayi tersebut dirawat ke ahli medis karena khawatir terlambat dan terkena infeksi.

“Mengenai permasalahan dana, kami memastikan ada keringanan biaya. Lantaran kami memiliki bangsal khusus untuk masyarakat kurang mampu,” ucapnya. 05/yun

 


 
Copyright © 2007 Tabloidnurani.com. All rights reserved