Dari Umrah Tahajud NURANi-Panglima Tour
Berangkat Menangis,
Pulang Pun Menangis
Siang menangis, malam menangis, dan pulang pun masih menangis. Umrah Tahajud kali ini memang bak latihan menangis. Sekeras dan sesombong apa pun hati seseorang, ternyata tetap meneteskan air mata.
Laporan A Bajuri
TIDUR di hotel bintang lima sekelas Marriot di Jeddah, memang terasa nikmat. Apalagi bayangan keluarga di rumah sudah di depan mata. Ada beberapa orang yang sudah sibuk menghubungi keluarganya agar disiapkan penjemputan di bandara. Maklum, hari itu adalah hari terakhir rangkaian perjalanan Umrah Tahajud yang diadakan NURANi bersama Panglima Tour, awal Mei lalu.
Sebagaimana biasa, saya memandu jalannya taushiyah terakhir yang disampaikan Ustad Sholeh. Tanpa terasa, siang itu taushiyah Ustad Sholeh begitu menyentuh kalbu, membolak-balikkan emosi, menghitung dosa-dosa, dan meruntuhkan kesombongan. Sontak seluruh jemaah menangis lagi dalam doa yang dipanjatkan penuh penghayatan.
”Ya Allah, ada yang kami takutkan setelah umrah ini berlalu. Jangan-jangan umrah ini tidak engkau terima. Jangan-jangan tahajud ini tidak engkau anggap sebagai amal ibadah. Jangan-jangan dosa kami tidak engkau ampuni,” urai Ustad Sholeh sambil suaranya terpatah-patah.
Pertemuan itu diakhiri dengan saling bermaafan, saling bersalaman dan saling mengikhlaskan.
PAHALA MENANGIS
Menangis dalam ibadah, bukanlah hal mudah. Menangis karena takut pada Allah, juga bukanlah hal ringan. Butuh latihan dan keimanan yang mendalam. Beruntunglah, jamaah Umrah Tahajud kali ini bisa menangis di berbagai suasana, siang malam, pagi sore, bahkan menjelang kepulangan pun mereka masih menangis.
”Alhamdulillah, saya bisa menangis. Kalau menangis karena yang lain saya tidak bangga. Tapi menangis dalam ibadah, adalah kebanggaan tak terlupakan,” ujar Eko yang berangkat bersama istrinya. ”Setiap kali tawaf, melihat Kakbah, saya selalu menangis,” lanjutnya.
Lain lagi dengan Putri, jamaah umrah dari Bandung. Tak terasa airmatanya menetes saat meninggalkan Mekah menuju Madinah. ”Aku tidak biasa cengeng. Aku orangnya super cuek. Tapi kenapa air mata ini menetes saat kutinggalkan Kakbah,” katanya.
Masih banyak lagi jamaah yang mengaku sering menangis saat di Masjidil Haram. Saat-saat bertahajud, saat ingat akan segala dosa dan saat mengakui kebesaran Allah. Kalau benar mereka semua menangis karena cinta dan takut kepada Allah, maka mereka telah melaksanakan sunnah Rasul. Karena Rasulullah sebenarnya adalah orang yang banyak menangis.
Dalam sebuah hadis dikatakan oleh Rasulullah: Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan pasti akan banyak menangis.
Dalam hadis lain dijelaskan pula, ada satu diantara 7 kelompok manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari kiamat nanti, yaitu mereka yang berzikir di tempat sunyi lalu kedua matanya bercucuran airmata.
Sungguh, semoga airmata jamaah umrah tahajud itu dinilai sebagai tangisan takut dan cinta kepada Allah. Paling tidak, mampu melunakkan hati dan mematikan kesombongan serta mengingatkan bahwa hanya Allah yang Mahabesar. Hasil inilah yang akan membuat mereka sehat, sembuh dari penyakit dan hidupnya tenang. Semoga. *01