Tabloid Keluarga Muslim Terbesar
Logo Nurani   Jilbab Class 07
haji
Hamil, Tak Perlu Menunda Haji
 
HAJI & UMRAH

Dari Umrah Tahajud NURANi-Panglima Tour
Berangkat Menangis,
Pulang Pun Menangis

Siang menangis, malam menangis, dan pulang pun masih menangis. Umrah Tahajud kali ini memang bak latihan menangis. Sekeras dan sesombong apa pun hati seseorang, ternyata tetap meneteskan air mata.

Laporan A Bajuri

TIDUR di hotel bintang lima sekelas Marriot di Jeddah, memang terasa nikmat. Apalagi bayangan keluarga di rumah sudah di depan mata. Ada beberapa orang yang sudah sibuk menghubungi keluarganya agar disiapkan penjemputan di bandara. Maklum, hari itu adalah hari terakhir rangkaian perjalanan Umrah Tahajud yang diadakan NURANi bersama Panglima Tour, awal Mei lalu.

Sebagaimana biasa, saya memandu jalannya taushiyah terakhir yang disampaikan Ustad Sholeh. Tanpa terasa, siang itu taushiyah Ustad Sholeh begitu menyentuh kalbu, membolak-balikkan emosi, menghitung dosa-dosa, dan meruntuhkan kesombongan. Sontak seluruh jemaah menangis lagi dalam doa yang dipanjatkan penuh penghayatan.

”Ya Allah, ada yang kami takutkan setelah umrah ini berlalu. Jangan-jangan umrah ini tidak engkau terima. Jangan-jangan tahajud ini tidak engkau anggap sebagai amal ibadah. Jangan-jangan dosa kami tidak engkau ampuni,” urai Ustad Sholeh sambil suaranya terpatah-patah.

Pertemuan itu diakhiri dengan saling bermaafan, saling bersalaman dan saling mengikhlaskan.

PAHALA MENANGIS
Menangis dalam ibadah, bukanlah hal mudah. Menangis karena takut pada Allah, juga bukanlah hal ringan. Butuh latihan dan keimanan yang mendalam. Beruntunglah, jamaah Umrah Tahajud kali ini bisa menangis di berbagai suasana, siang malam, pagi sore, bahkan menjelang kepulangan pun mereka masih menangis.

”Alhamdulillah, saya bisa menangis. Kalau menangis karena yang lain saya tidak bangga. Tapi menangis dalam ibadah, adalah kebanggaan tak terlupakan,” ujar Eko yang berangkat bersama istrinya. ”Setiap kali tawaf, melihat Kakbah, saya selalu menangis,” lanjutnya.

Lain lagi dengan Putri, jamaah umrah dari Bandung. Tak terasa airmatanya menetes saat meninggalkan Mekah menuju Madinah. ”Aku tidak biasa cengeng. Aku orangnya super cuek. Tapi kenapa air mata ini menetes saat kutinggalkan Kakbah,” katanya.

Masih banyak lagi jamaah yang mengaku sering menangis saat di Masjidil Haram. Saat-saat bertahajud, saat ingat akan segala dosa dan saat mengakui kebesaran Allah. Kalau benar mereka semua menangis karena cinta dan takut kepada Allah, maka mereka telah melaksanakan sunnah Rasul. Karena Rasulullah sebenarnya adalah orang yang banyak menangis.

Dalam sebuah hadis dikatakan oleh Rasulullah: Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan pasti akan banyak menangis.
Dalam hadis lain dijelaskan pula, ada satu diantara 7 kelompok manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari kiamat nanti, yaitu mereka yang berzikir di tempat sunyi lalu kedua matanya bercucuran airmata.

Sungguh, semoga airmata jamaah umrah tahajud itu dinilai sebagai tangisan takut dan cinta kepada Allah. Paling tidak, mampu  melunakkan hati dan mematikan kesombongan serta mengingatkan bahwa hanya Allah yang Mahabesar. Hasil inilah yang akan membuat mereka sehat, sembuh dari penyakit dan hidupnya tenang. Semoga. *01

Ibadah haji memang butuh fisik yang prima. Tapi bagaimana dengan ibu hamil. Tak perlu hawatir, jika masih hamil muda, tak perlu menunda pergi haji. Tapi bagaimana caranya?

Mungkin ada sebagian calon jemaah haji tahun ini telanjur hamil. Kalau sudah begitu, apa harus menunda keberangkatannya ke tanah suci?

Ternyata tidak. Wamita hamil yang kehamilannya masih berusia muda, tiga bulan pertama, bisa menunaikan ibadah haji. Hal ini dikemukakan Dr. H. Ari Bratasena, Kasubdit Kesehatan Haji Departemen Kesehatan RI saat menjadi narasumber dialog haji di salah satu stasiun televisi swasta, Kamis (31/05).

Tapi, kata Ari, hal itu ada syaratnya.
“Calon jemaah tersebut sudah divaksin meningitis,” katanya.

Uniknya, vaksin meningitis sendiri justru berbahaya bagi usia-usia kehamilan awal yang akan sangat berpengaruh pada janin. Artinya, jemaah hamil yang bisa menunaikan haji adalah jemaah yang telah divaksin meningitis sebelum kehamilan. Sementara masa berlaku dan aktifitas vaksin tersebut selama dua tahun.

“Jika jemaah tahun lalu sudah divaksin, maka tak perlu vaksin lagi,” katanya.
Vaksin meningitis adalah kaharusan yang ditetapkan pemerintah Kerajaan Arab Saudi untuk melindungi jemaah haji.

“Arab Saudi adalah wilayah meningitis belt,” tegasnya.
Sehingga penularan sangat mudah terjadi di sana karena desakan dan berkumpulnya jutaan manusia. Arab Saudi juga memberlakukan vaksin polio untuk beberapa negara tertentu.

Vaksin meningitis di Indonesia akan bisa dilaksanakan pada bulan Juli dan Agustus mendatang, yaitu pada pemeriksaan kedua jemaah haji. Pemeriksaan pertama adalah pada saat mendaftar dan pemeriksaan ketiga nanti yaitu pada saat hendak berangkat ke tanah suci.

VAKSIN MININGITIS
Dalam dialog itu juga, Ari mengingatkan agar pelaksanaan vaksin meningitis yang dilakukan sejumlah penyelenggara haji khusus tidak boleh dilakukan di hotel-hotek mewah.

“Hal ini pertentangan dengan UU Prektek Kedokteran,” katanya.  Menurut Ari, meskipun vaksin sederhana, tapi memiliki konsekwensi.

“Bagi jemaah yang alergi telor ia tidak bisa menerma vaksin meningitis,” paparnya. Jika terjadi masalah dengan jemaah terkait kasus vaksin itu, maka semua pihak yang melaksanakan itu akan terkena dampak hukum. Mulai dari penyelenggara, hotel, hingga dokter yang melakukannya. “Makanya harus dilakukan di rumah sakit,” tegasnya.

 

BEBAS DAM
Menteri Agama (Menag) Maftuh Basyuni menyatakan, pada musim haji tahun depan direncanakan jemaah haji Indonesia tidak lagi dibebani biaya dam (denda). Biaya tersebut akan diambil dari tabungan deposito setoran awal calon jemaah haji yang besarnya Rp 20 juta per orang. Hal itu terungkap dalam pertemuan Menag dengan Kakanwil Depag Sumatera Utara Drs Z. Arifin Nurdin SH, Ketua MUI Sumut Prof Dr Abdullah Syah, dan Kepala Bainfokom Provinsi Sumatera Utara Drs Eddy Sofian, MAP di kediaman Menag, Kompleks Perumahan Menteri, Jalan Widya Candra 4, Jakarta, Sabtu (26/5).

“Kalau ada kelebihan dana jemaah yang bisa dikembalikan akan dikembalikan. Tapi, ada juga sisa yang tidak mungkin dikembalikan, kita buat bayar dam,” ujar Menag. Dana deposito yang merupakan dana awal setoran haji itu merupakan salah satu dana haji yang bisa dikembalikan.

“Dana haji yang tidak bisa dikembalikan akan menjadi dana abadi umat,” ujarnya. Terkait dengan dana tersebut, Menag menjelaskan, saat ini dana abadi umat mencapai Rp 1 triliun dan sedang menunggu keputusan presiden untuk penggunaannya.

Karena itu Menag meminta Komisi VIII DPR untuk melakukan penelitian lebih dalam setiap komponen biaya haji supaya tidak ada kelebihan yang berlebihan, tapi jangan ada kekurangan.

Dengan dibayarnya dam dari tabungan setoran awal haji, maka 80 persen jemaah haji Sumatera Utara yang melakukan haji tamatu (melaksanakan umrah sebelum haji, red) dan harus membayar dam sebesar 300 riyal, tidak lagi harus membayarnya dari uang pribadi.

PERBAIKI MANASIK
Info lain yang tak kalah penting adalah soal manasik haji. Departemen Agama dan Departemen Kesehatan harus melakukan kolaborasi dalam menyampaikan panduan berhaji bersamaan dengan pendidikan manasik haji.

“Departemen Agama memiliki ujung tombak KUA dan kami memiliki ujung tombak Puskesmas yang bisa berkolaborasi dalam memberikan bimbingan kepada jemaah haji,” kata Dr H Ari Bratasena, Kasubdit Kesehatan Haji Departemen Kesehatan RI. Menurut Ari, sangat tepat jika pada saat manasik haji itu, jemaah juga diberikan bekal tentang kesehatan haji.

“Kesehatan haji juga sangat penting yang kadangkala diabaikan jemaah,” katanya saat dialog haji di televisi swasta, Kamis (31/05). Ari menambahkan, dengan cara itu calon jemaah haji lebih mandiri, memahami manasik haji (agama) dengan baik dan memahami kesehatan secara benar. 05/net

   


 
Copyright © 2007 Tabloidnurani.com. All rights reserved