Salat Khusyuk Itu Mudah
Salat khusyuk itu mudah. Tinggal bagaimana kita mempunyai niat untuk melakukannya. Demikian pendapat ustad Abu Sangkan berkaitan dengan acara training salat khusyuk yang digelar NURANi dan Salat Center di Masjid Al Akbar Surabaya 30 Mei 2009. Bagaimana meraih khusyuk dalam salat? Berikut penuturan ustad Abu Sangkan.
Setiap manusia terdiri dari Kecerdasan Fisik (PQ), Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ) serta Kecerdasan Spiritual (SQ). Ternyata teori tersebut bisa digunakan untuk meraih salat khusyuk.
Sebelum melakukan salat, kondisi fisik (PQ) seseorang diusahakan dalam kondisi yang tenang dan membuang urusan duniawi. Semua otot tubuh juga dalam kondisi tidak tegang. Selanjutnya, IQ jangan beranggapan bahwa konsentrasi pikiran menjadi kunci khusyuk. Terkadang untuk membantu menciptakan konsentrasi pikiran itu, disyaratkan pandangan orang salat harus tertuju pada satu titik sujud, atau menertejemahkan bacaan, atau menghadirkan Allah dalam salat dan sebagainya.
Persepsi Salat
Cara-cara tersebut terkesan meyakinkan, namun kenyataannya tidak memberi banyak manfaat. Buktinya ketika orang salat dipaksa menjaga pandangannya pada satu titik fokus juga tidak mampu menahan pikirannya yang melompat-lompat. Jika disyaratkan harus mengerti bacaan salat maka tidak mungkin ada orang arab di makkah yang salat sambil merapikan pakaiannya atau matanya yang melirik ke kamana-mana, karena mereka tentu mengerti bacaannya.
Mencoba “Menghadirkan” Allah saat salat juga malah lebih membingungkan karena dalam surat Asy Syuura ayat 11 dijelaskan bahwa Allah tidak bisa diserupakan apapun juga. Jadi konsentrasi pikiran bukan menjadi penentu untuk meraih salat khusyuk.
Selanjutnya agar bisa salat khusyuk maka harus mengatur kecerdasan emosional (EQ), sikap hati, sikap tubuh dalam setiap gerakan salat. salat bisa diartikan sebagai doa. dan setiap doa mengadung permintaan. Selayaknya orang yang membutuhkan pertolongan Allah, posisikanlah hati lebih rendah dihadapan Allah.
Jika ketiga hal tersebut sudah dilakukan, maka kecerdasan spiritual (SQ) atau yang disebut khusyuk akan dirasakan. Sebab khusyuk itu merupakan factor Given (pemberian dari Allah). Selanjutnya ubahlah persepsi sulit dalam melakukan salat khusyuk. Sebab persepsi seperti itu justru yang menjadi awal dari kegagalan seseorang meraih khusyuk. Hal tersebut ditegaskan Allah dalam alquran, “Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya” (QS Albaqarah : 45-46).
Phylosophy Of Salat
Perbedaan antara orang yang sukses dan tidak bukanlah terletak pada kurangnya pengetahuan, tetapi kurangnya tekad dan kemauan. Orang-orang yang gagal selalu melihat kesulitan dalam setiap kesempatan. Sebaliknya orang-orang yang sukses selalu melihat kesempatan dalam kesempitan.
Pedoman tersebut juga berlaku pada salat khusyuk. Jadi orang-orang yang salatnya khusyuk adalah orang yang selalu tidak menganggap sulit untuk melakukan salat khusyuk. Kuncinya adalah selalu berusaha dalam proses, bersabar dan tuma’ninah (berhenti sejenak dalam setiap gerakan salat). Allah berfirman dalam alquran, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhoan) kami, sungguh akan Kami tunjukkan pada mereka jalan-jalan Kami…” QS Al Ankabut :69).
WHO AM I?
Who Am I (siapa Aku) merupakan bagian yang berperan dalam salat khusyuk. Sebab selama ini banyak muslim yang kurang tepat memposisikan siapa Aku yang sebenarnya. Aku yang dimaksud bukan raga saja, tetapi juga jiwa atau ruh. Jika salat hanya melibatkan fisik saja, maka orang tersebut bukan pada posisi sadar. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan…” (QS an nisaa’ : 43).
Definisi mabuk dalam arti ayat tersebut adalah seseorang yang dalam kondisi tidak sadar atas dirinya. Sehingga jelas untuk melakukan salat khusyuk, maka harus melibatkan jiwa dalam setiap salat. Memang benar banyak muslim yang salat. Namun sayangnya salatnya hanya sebatas intrumen saja, bukan pada arti melakukan salat yang sesungguhnya yang melibatkan rasa.
Sadar AKU tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan melibatkan rasa, tunduk, penuh harap dan cemas. Sebagaimana apa yang dilakukan oleh nabi Zakaria yang menginginkan anak. Allah kemudian mengabulkan doa nabi Zakaria dengan memberikan Zakaria keturunan bernama Yahya. Sebagaimana Allah berfirman, “Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami” (QS Al Anbiya’ : 90).
Setidaknya ada tiga syarat agar setiap doa dikabulkan Allah SWT. Pertama, segera berbuat baik. Kedua, berdoa dengan harap dan cemas. Dan ketiga, salat dengan khusyuk.
Shilatun, Sholatun, Shalawatun
Selanjutnya yang perlu diperhatikan dalam salat khusyuk adalah Shilatun, Sholatun dan Shalawatun yang artinya hubungan/sambungan/komunikasi langsung antara hamba dengan Allah. Pemahaman hubungan itu sendiri memiliki dua perspektif, yakni memuji dan meminta. Keduanya sama-sama dilakukan dihadapan Allah. Biasanya seorang hamba akan khusyuk salatnya ketika sedang tertimpa masalah atau musibah. Orang tersebut akan sadar posisinya yang sedang meminta pertolongan Allah dengan kepasrahan yang tinggi. Nah, kepasrahan itulah yang membuka hijab (tabir) antara diorinya dengan Allah sehingga ia benar-benar seolah merasakan kehadiran Allah dalam salatnya.
Namun jangan diartikan manusia harus menunggu ditimpa musibah sehingga akan membuat dirinya merasakan salat khusyuk. Bagaimanapun juga posisi manusia harus tetap tunduk kepada Allah. Selama ini Allah masih belum mencabut nikmat untuk hamba-Nya, Allah juga masih menutup aib manusia sehingga mereka masih merasa terhormat bagi manusia lainnya. Bayangkan jika semua kenikmatan dunia itu diambil lagi oleh Allah dan Allah membuka semua aib manusia. Jika itu terjadi, maka tidak ada seorangpun yang akan merasa dirinya tidak ditimpa musibah atau merasa tidak terhina.
Dzikrullah
Ada dua pemahaman tentang dzikrullah, yakni menyebut dan mengingat. Jika diartikan menyebut, maka itu dilakukan dengan lisan atau mulut. Tetapi jika diartikan mengingat, maka itu dilakukan oleh jiwa atau AKU. Nah, aplikasi dzikrullah di dalam salat khusyuk harus berbetuk mengingat Allah SWT dengan jiwa. Caranya, rendahkan diri sembari mengharapkan sesuatu pemberian dari Allah agar mengabulkan doa. Seperti diperintahkan Allah dalam alquran, “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (QS Al A’raf : 205).
Di dalam salat, sebenarnya telah terjadi “transaksi” antara seorang hamba dengan Allah. Transaksi tersebut berbentuk permohonan atau permintaan doa dari hamba-Nya yang kemudian “dikabulkan” oleh Allah. Bahkan tanpa diminta melalui doa sekalipun, Allah telah memberikan nikmat-Nya kepada Hamba-Nya. Yakinlah bahwa semua doa akan dikabulkan Allah. Semua itu telah dijanjikan Allah dalam alquran, “Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri” (QS Yunus 44).
Ke Mana Aku Menghadap
Butuh penghayatan yang tinggi untuk memahami Kemana Ku Menghadap. Dalam surat albaqarah dijelaskan, “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah “wajah” Allah, sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui” (QS Albaqarah : 115).
Perlu diketahui bahwa Dzat Allah meliputi SIFAT, sedangkan SIFAT menyertai NAMA. Dan NAMA menunjukkan PERBUATAN. Selama ini semua umat islam menghadap ke arah kakbah dalam setiap salat. Keberadaan baitullah tersebut merupakan simbol arah dan mengarahkan. Dzat Allah ada dimana-mana, karena Allah memiliki sifat kekal dan tidak binasa. Maka setiap orang salat, hakikatnya menyembah kepada Allah. Seperti dalam firman-Nya, “Sesungguhnya AKU ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain AKU, maka sembahlah AKU dan dirikanlah salat untuk mengingatku,” (QS Thaahaa : 14).
Dampak Dari Salat
Di dalam alquran ditegaskan, “…sesungguhnya salat itu mencegah perbuatan keji dan munkar. Dan ketahuilah mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamannya dari ibadah yang lain…” (QS Al Ankabut : 45).
Dalam potongan ayat tersebut jelas bahwa jika salat bisa dijadikan alat kontrol untuk mencegah seseorang berbuat kejahatan dan kemaksiatan. Ringkasnya, jika seseorang rajin melaksanakan salat, namun di sisi lain ia juga rutin melakukan kemaksiatan, maka kualitas salatnya harus dipertanyakan. Jangan-jangan salat yang dilakukannya selama ini sebatas intrumennya saja tanpa melibatkan jiwa dan rasa. Wallahu a’lam. 04/Yun
JADWAL ACARA TRAINING SALAT KHUSYUK
07.00 – 08.00 REGISTRASI
08.00 – 08.30 PEMBUKAAN
08.30 – 09.30 PERSEPSI SALAT
09.30 – 11.00 PHYLOSOPHY OF SALAT
WHO AM I
11.00 – 12.30 ISTIRAHAT SALAT DHUHUR
12.30 - 14.20 DZIKRULLAH
KE MANA KU MENGHADAP
14.20 – 15.30 ISTIRAHAT SALAT ASHAR
15.20 - 17.00 SHILATUN, SHOLATUN, SHALAWATUN