glow kiri
Tabloid Keluarga Muslim Terbesar
 
Haji dan Umrah
 
 

Catatan Perjalanan Umrah Ramadan 1428H (6- Habis)
Iman Makin Mantap setelah Diganggu Yesus

Oleh A. Bajuri
(wartawan NURANi)

Seorang mualaf bermimpi. Ia ditemui Yesus sebelum berangkat umrah. Wajah Yesus terus terkenang sejak keberangkatan sampai kepulangan umrah. Tapi, mengapa dia bilang makin mantap akidahnya setelah bertemu Yesus?

Jamaah umrah itu bernama Ny Agustina, warga Jl Hayam Wuruk, Surabaya. Sebagai seorang mualaf (baru memeluk Islam), ia mengaku belum tahu banyak tentang Islam. Namun, suaminya terus mendorong ibu dua anak ini untuk berangkat umrah.

Karena diizinkan berangkat oleh suaminya, Ny Agustina pun berangkat umrah sendirian lewat Panglima Tour Surabaya. Sejak manasik umrah, Ny Agustina minta kepada saya untuk memandu khusus soal ibadah di Tanah Suci.

“Tolong, saya selalu dipandu. Karena saya masih taraf belajar Islam,” ujarnya saat mengikuti manasik.

Ketika sampai di Bandara Juanda, Ny Agustina dengan diantar putrinya yang cantik, kembali mengulangi pesan yang sama. “Jangan, lupa lho Pak! Saya diperhatikan,” katanya.

Begitu sampai di Bandara Cengkareng, Jakarta, saya bertemu dengan suami Ny Agustina, yang kebetulan sedang sekolah perwira TNI-AD di Bandung dan sengaja mencegat di bandara. Dalam satu meja makan siang itu –saya membatalkan puasa karena musafir-, suami Ny Agustina kembali berpesan untuk memandu ibadah istrinya.

Setelah melewati perjalanan 9 jam Jakarta-Jeddah, jamaah langsung menuju Madinah. Sebagaimana biasa, kegiatan di Madinah lebih banyak melakukan ibadah salat di Masjid Nabawi dan ziarah ke makam Rasul serta melakukan salat sunah di Raudah (taman surga), tempat mustajabah untuk semua doa.

Raudah pagi itu sangat padat. Jamaah wanita rombongan Panglima Tour dipandu khusus oleh guide (pembimbing) wanita. Setelah diberikan briefing sejenak, semua jamaah menuju ke Raudah. Ny Agustina, satu di antara rombongan itu juga mengikuti sang pembimbing.

Saya tidak bisa mengikuti rombongan wanita. Setelah saya dokumentasikan dan foto bersama di depan kubah hijau, jamaah masuk ke dalam Masjid Nabawi. Dari luar saya melihat kepadatan yang berlebih. Ratusan wanita dari penjuru dunia berdesakan untuk mendapat tempat di Raudah, yang luasnya tak lebih dari 150 meter persegi itu.

Saya sudah tidak tahu pasti, apakah Ny Agustina mendapatkan tempat salat dan berdoa di Raudah? Lalu apakah doa yang dipanjatkan? Bagaimana kesan-kesannya nanti kalau melihat kepadatan Raudah seperti itu?

Saya terus bertanya dalam hati. Tapi, seharian saya tidak bertemu Ny Agustina. Sampai akhirnya pada makan malam, usai salat Magrib, saya bertemu Ny Agustina. Apa yang dia katakana?

Alhamdulillah, Pak! Semuanya lancar. Saya malah diberi tempat oleh orang yang tidak saya kenal. Saya bisa salat dan berdoa sepuasnya di Raudah,” katanya.

Siapa sangka, apa yang dialami oleh Ny Agustina di Madinah, juga dirasakannya saat di Makkah. Ketika mencari tempat salat di Masjidilharam sangat sulit karena kepadatannya, justru Ny Agustina seringkali dipanggil orang dan dikasih tempat salat.

Pendek kata, semua ibadahnya dimudahkan. Mulai melaksanakan umrah, tawaf sunah, salat di Hijir Ismail, sampai mencium Hajar Aswad. Bahkan karena telah merasakan kelezatan beribadah, Ny Agustina pun rela tidur di Masjidilharam seharian penuh mulai pagi sampai usai Salat Tarawih (sekitar pukul 22.30).

Saya heran bercampur bangga, kenapa mualaf yang satu ini begitu getol beribadah dan seringkali mendapatkan keajaiban? Kenapa tidak sedikit pun rasa takut ketika melihat kepadatan jamaah di Masjidilharam?

Pertanyaan dalam hati saya mulai terjawab satu per satu saat perjalanan menuju Jeddah dengan bus. Sambil mata berkaca-kaca, Ny Agustina bercerita bahwa ia sangat senang karena benar-benar ditolong Allah.

“Allah sudah menyelamatkan akidah saya. Kini saya bisa ke Tanah Suci. Dan selama di sana, semua ibadah lancar,” ujar Ny Agustina memulai kisahnya.

Di Madinah, kata Ny Agustina, ia seperti bertemu Nabi Muhammad. Makanya, ia amat menghayati saat menyampaikan salam dan salawat.

“Saya jadi ingat, ketika saya ditemui Yesus dalam mimpi. Saat itu, Yesus bilang agar saya mengakuinya sebagai tuhan. Tapi saya jawab, Anda adalah Rasul dan Nabi Allah, sebagaimana saya mengakui Nabi Muhammad sebagai rasul Allah,” tegas Ny Agustina.

Oleh karena itu, saat di Raudah Ny Agustina mengaku berdoa agar akidahnya dikuatkan untuk berpegang pada Islam. Begitu pula saat di Multazam –tempat mustajabah di Masjidilharam, tepatnya antara Hajar Aswad dan pintu Kakbah-, Ny Agustina juga berdoa agar akidahnya dikuatkan dan agar tidak diganggu lagi setan atau jin yang mengaku Yesus, yang terus menyesatkan.

Menurut Ny Agustina, sejak bertemu “Yesus” itu imannya kini makin kuat. Islam adalah agama yang akan dipegangnya sampai akhir hayat. “Kalau saya kelihatan bersemangat dan bisa menikmati kelezatan beribadah, semua itu karena saya yakin, Islam adalah agama yang benar. Saya bersyukur diberi hidayah Allah,” tandasnya seraya berharap bisa kembali lagi ke Baitullah bersama keluarga.

Tak terasa, bus sudah sampai Jeddah. Ny Agustina dan jamaah lain turun bus dan masuk bandara. Saya tidak ikut mengantar masuk, karena saya masih ingin menikmati malam 27 Ramadan di Makkah. Sebelum pulang, Ny Agustina minta didoakan agar kuat akidahnya. Saya pun lalu memberinya doa, yang saya ambil dari Alquran Surat Ali Imran ayat 8: Rabbana la tuzigh-qulubana bakda iz-hadaitana, wahablana min ladunka rohmah. Innaka antal wahhab. “Ya Allah, janganlah engkau jadikan hati kami condong pada kesesatan setelah engkau beri hidayah (masuk Islam). Karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau karena Engkau Mahapemberi karunia.”
“Tolong, Ibu. Amalkan satu ayat ini agar tidak ditemui “Yesus” lagi,” kata saya sambil tersenyum. 01 

| sebelumnya 1 - 2- 3 - 4 - 5 |

 
 

   

 
Copyright © 2007 Tabloidnurani.com. All rights reserved
glow kanan