glow kiri
Tabloid Keluarga Muslim Terbesar
 
Haji dan Umrah
 
 

Catatan Perjalanan Umrah Ramadan 1428H (5)
Banyak Aliran, tapi Lebaran Bersama

Oleh A. Bajuri
(wartawan NURANi)

Beda di Indonesia, beda pula di Arab Saudi. Banyak ulama dari berbagai paham atau aliran, mulai dari Sunni, Syiah, Wahabi, dan lainnya. Namun, mereka kompak soal pelaksanaan Idul Fitri, yaitu mengikuti penetapan pemerintah. Mengapa Lebaran kita selalu berbeda?

Malam 27 Ramadan, saya masih berada di Masjidilharam. Suasana makin padat dan ramai. Bahkan, ada yang bilang, lebih ramai daripada musim haji. Semua akses menuju Masjidilharam dijaga puluhan polisi dan petugas keamanan (semacam satpol). Mereka berjaga-jaga, mengatur jalur pejalan kaki, mengurai kepadatan, menghadang laju orang agar tidak berdesakan dan menyiapkan segala kemungkinan yang terjadi akibat kecelakaan.

Tidak hanya itu, para tenaga medis lengkap dengan puluhan mobil ambulans terus berjaga-jaga di semua akses jalan menuju Masjidilharam. Traffic light yang ada di pintu Masjidilharam hampir sering kelihatan merah, yang berarti masjid sudah penuh. Padahal belum dikumandangkan azan. Akibatnya, jamaah meluap ke halaman, jalan-jalan, emperan toko-toko, dan di manapun asal masih bisa salat berjamaah mengikuti imam Masjidilharam.

Seorang jamaah umrah dari Linda Jaya Surabaya, Prof Bambang Priambodo, yang kebetulan satu rombongan dengan saya, sempat menyampaikan bahwa sepertinya Ramadan kali ini berbeda. “Tahun lalu, tidak seramai tahun ini. Mungkin, Ramadan kali ini ada yang istimewa. Ibarat haji, mungkin haji akbar,” kata dokter ahli bedah tulang yang hampir setiap tahun menunaikan umrah Ramadan ini.

Saya mencoba untuk mencari tahu, apa benar Ramadan kali ini berbeda. Menurut informasi dari beberapa orang Arab dan para mukimin (orang Indonesia yang tinggal di Makkah) ternyata tidak ada perbedaan.

“Semua berjalan wajar. Ini sudah menjadi kebiasaan orang Arab bahwa mereka meyakini Lailatulqadar itu jatuh pada 27 Ramadan. Makanya, mereka banyak yang tidur di Masjidilharam selama 10 hari akhir Ramadan,” kata Moerjani, mukimin yang sudah lebih 30 tahun tinggal di Makkah.

Malam 27 Ramadan itu pula, saya ikut-ikutan berburu Lailatulqadar. Meskipun saya tahu, tidak satupun hadis Rasulullah yang menjelaskan bahwa Lailatulqadar itu diturunkan tepat pada 27 Ramadan. Tapi saya pikir, mungkin bisa saja terjadi. Walaupun sebenarnya saya meyakini, Lailatulqadar itu adalah semacam rewards (penghargaan) khusus yang menjadi hak prerogatif Allah. Bisa saja diturunkan pada awal, tengah, atau akhir Ramadan. Terserah Allah.

Begitu pula, tidak semua orang yang beribadah di malam lailatul qadar itu secara otomatis mendapatkan lailatul qadar. Kalau tidak dikehendaki Allah --karena orang tersebut misalnya tidak ikhlas atau kebetulan hanya beribadah pada malam itu saja-- tentu tidak akan mendapatkan lailatul qadar. Tetapi seandainya Allah menghendaki orang yang hanya beribadah sekali itu lalu mendapatkan lailatul qadar, itu juga hak Allah.

Pendek kata, malam 27 Ramadan ibarat dipenuhi dengan salat, isak tangis dan doa. Apalagi saat salat tahajud, doa qunut pada 1 rakaat salat witir itu sungguh membuat banyak orang tersedu-sedu. Doa yang dikumandangkan Syech Sudais yang menjadi imam salat tahajud, sungguh sangat menyentuh kalbu. Jangankan, orang Arab yang tahu artinya, banyak pula orang Indonesia yang tidak tahu bahasa Arab ikut menangis.

Pagi harinya, saya mencoba melihat langit, matahari dan suasana Makkah. Karena menurut beberapa literatur, pagi hari setelah malam Lailatulqadar biasanya langit cerah, tanpa mendung dan matahari kurang tajam sinarnya akibat kabut tipis, yang konon adalah para malaikat yang kembali ke langit setelah menebarkan Lailatulqadar di berbagai pelosok bumi.

Dari hasil pengamatan saya, bisa jadi memang malam 27 Ramadan tersebut adalah malam Lailatulqadar. Pagi hari, langit cerah dan mentari pagi agak malu-malu menampakkan sinarnya. Pertanyaannya, apakah saya ikut mendapatkan Lailatulqadar? Wah, tentu hanya Allah yang tahu. Yang penting, saya sudah ikut menikmati lezatnya beribadah Ramadan di Masjidilharam bersama umat Islam sedunia.

Esok harinya, ada satu tugas akhir yang ingin saya lakukan di Mekah sebelum saya pulang ke tanah air, yaitu mencari tahu tentang kapan waktunya Idul Fitri. Hampir semua orang yang saya tanya, tidak ada yang tahu kapan lebaran tiba. Jawabannya serempak: tunggu pengumuman pemerintah.

Apa yang saya lakukan ternyata juga dilakukan oleh seorang kiai popular di Jawa Timur, KH Imam Chambali (Pengasuh Pesantren “Al-Jihad” Surabaya). Sampai pada malam Jumat atau 29 Ramadan, tidak ada satu pun yang tahu kapan lebaran. “Bahkan ketika azan Isyak mau berkumandang, belum juga ada yang tahu,” kata Pak Imam, panggilan akrabnya, yang saat itu menunaikan umrah sampai lebaran di Makkah.

Pak Imam mengisahkan, beberapa menit menjelang salat Isyak, tiba-tiba pemerintah Arab Saudi mengumumkan hasil rukyat dan menetapkan besok adalah 1 Syawal. Malam itu juga, semua jamaah Masjidilharam tidak menampakkan sikap apa pun. “Semua biasa-biasa saja. Lalu salat Isyak pun dilaksanakan, dan salat taraweh tidak jadi dilakukan,” ujarnya.

Saya berusaha menyimpulkan, kenapa orang Arab sangat patuh dengan hasil rukyat dan penetapan Idul Fitri yang diumumkan pemerintah? Jawabnya, gampang. Karena taat kepada pemerintah adalah perintah Allah. Alquran memang mengajarkan, agar orang-orang yang beriman taat kepada Allah, Rasul dan ulil amri (pemerintah). Sayangnya, ada yang mengartikan “ulil-amri” itu adalah pimpinan organisasi atau pimpinan agama. Sehingga mereka lebih percaya pimpinannya daripada pemerintah. Wallahu a’lam.

Tetapi bukankah di Arab Saudi banyak pimpinan agama juga, bukankah ada aliran atau paham Sunni, Syiah, Wahabi, dan lain-lain yang saling bertentangan keras. Bahkan ada ulama yang sampai dipenjara dan dihukum mati karena pertentangan itu. Namun untuk soal lebaran Idul Fitri atau Idul Adha, mereka bersatu dan kompak.

Suatu ketika dengan nada kelakar, saya bertanya kepada Kiai Imam Chambali, kenapa di Indonesia tidak bisa kompak lebarannya? “Di negara kita, banyak orang yang merasa pinter, lalu keminter (sok pintar) dan minteri (ngakali) orang lain sehingga enggan berlebaran bersama,” ujarnya dengan tersenyum. 01

| sebelumnya 1 - 2- 3 - 4 |

 
 

   

 
Copyright © 2007 Tabloidnurani.com. All rights reserved
glow kanan