glow kiri
Tabloid Keluarga Muslim Terbesar
 
Haji dan Umrah
 
 

Catatan Perjalanan Umrah Ramadan 1428H (4)
Tarawih 33 Rakaat, Masih Rebutan Tempat

Oleh A. Bajuri
(wartawan NURANi)

Sepuluh hari terakhir Ramadan di Masjidilharam hampir tak ada sela. Semua orang berebut mendapatkan tempat salat. Bahkan, ada yang sampai baku hantam hanya karena mempertahankan tempat salat. Padahal total salat tarawihnya sebanyak 33 rakaat. Lho?

Ramadan karem. Begitu bunyi pamflet, buklet, neonbox, billboard, dan sejumlah materi promosi di jalan-jalan di Arab Saudi dalam menyebut Bulan Ramadan yang mulia. Begitu mulianya sehingga hampir seluruh penduduk jazirah Arab melakukan umrah dan ibadah lainnya di Masjidilharam.

Bisa ditebak, Makkah pun meluap. Banjir jamaah tak bisa dibendung. Hampir-hampir Masjidilharam tak lagi bisa menampung. Ribuan petugas keamanan (askar) Masjidilharam dikerahkan, toh masih kewalahan membendung keinginan jamaah untuk bisa masuk Masjidilharam.

Para askar pun tak kekurangan akal. Mereka membawa papan bertuliskan imbauan untuk tidak masuk Masjidilharam. Papan itu diberi tiang dan diangkat tinggi-tinggi. Bunyi tulisan “Arab” itu kira-kira: silakan salat di mana saja, selama di Tanah Haram, pahalanya sama seperti di dalam Masjidilharam.

Tapi, orang tak menghiraukan imbauan tersebut. Semangat untuk bisa masuk Masjidilharam sangat tinggi. Mereka berkelompok sangat besar. Lalu mendesak pagar betis petugas keamanan. Ketika di pintu 79 (Gate Malik Fahd), mereka tertahan penjagaan yang sangat ketat. Namun, tak berapa lama pertahanan para askar itu bobol.
Saya berada tak jauh dari pintu 79. Ketika massa menyemut dan menyatu pada satu titik pintu 79, saya langsung memutuskan untuk tidak masuk masjid. Saya memilih salat di halaman masjid saja. Ketika insiden saling dorong untuk membobol pertahanan para askar, saya sudah pada posisi aman. Tapi, tiba-tiba suara gemuruh seperti ledakan terdengar dan pintu 79 itu akhirnya bobol.

Seorang jamaah Panglima Tour, satu rombongan dengan saya, yang berada di tengah kerumunan itu langsung menyelamatkan diri.
“Untung, saya bisa menyelinap keluar dari kerumunan itu. Saya lihat ada 3 orang wanita yang jatuh terinjak-injak jamaah lain. Tapi kelihatannya masih bisa terselamatkan,” ujar Sutrimo dari Lamongan.

33 RAKAAT
Sejak malam 21 Ramadan, memang situasinya agak rawan terjadi kecelakaan. Sebelumnya, saya juga melihat ada wanita jatuh dari eskalator. Belum lagi yang pingsan karena terhimpit orang di pintu masuk. Anehnya, semakin hari jumlah jamaah semakin banyak. Insiden-insiden kecil tak mereka hiraukan. Yang penting, bisa masuk Masjidilharam dan bisa mengikuti salat wajib serta salat tarawih 33 rakaat.

Benarkah 33 rakaat? Begitulah orang-orang menyebutnya. Mereka bilang, tarawihnya 33 rakaat. Padahal sebenarnya, tarawihnya 20 rakaat dilakukan usai salat Isyak. Dan malam harinya dilanjutkan salat tahajud berjamaah sebanyak 10 rakaat, ditambah salat witir 3 rakaat dengan 2 kali salam. Salat tahajud tersebut dilakukan pada pukul 01.00 sampai pukul 03.00 WIB dinihari.

Kalau ada yang mengira bahwa salat tahajud tersebut adalah salat tarawih, memang bisa dianggap wajar. Hal ini dikarenakan sang bilal (petugas pendamping imam) tidak menyebut nama salat tarawih atau tahajud ketika akan memulai salat. Sang bilal Masjidilharam hanya mengucapkan: assholatul qiyami yarhamukumullah (mari salat qiyamull lail, semoga Allah merahmati kalian).

Jadi, semua salat sunah malam itu dianggap sebagai salat qiyamullail (menghidupkan malam). Bedanya, kalau salat tarawih biasanya dilakukan lebih cepat daripada salat tahajud. Tapi pada salat tahajud, waktu rukuk dan sujud diperlama sehingga membedakan dengan salat tarawih atau salat witir.

TETAP DAMAI
Ada beberapa yang menarik dari fenomena salat tarawih 20 rakaat atau 33 rakaat di Masjidilharam, yaitu (pertama) adanya kedamaian satu sama lain. Tidak saling olok soal bilangan salat tarawih. Bagi mereka yang tidak mau salat lama, biasanya setelah 10 rakaat pertama, langsung pulang. Mereka tidak memilih berhenti pada 8 rakaat, karena pergantian imam salat terjadi setelah 10 rakaat pertama.

Hal menarik lain, pemilihan imam salat pun seakan sudah diatur. Untuk Ramadan kali ini, tidak dipimpin lagi oleh Syekh Sudais atau Suraim, melainkan digantikan oleh Syekh Mahir Muaiqily. Cara membacanya agak berbeda; pelan, monoton, dan seperti tidak berlagu. Tetapi pada 10 rakaat berikutnya, imam salat dipercayakan kepada Syekh Juhaini. Bacaan Alqurannya cepat dan nada suaranya yang tinggi, membuat jamaah yang sudah lelah menjadi semangat lagi untuk melaksanakan salat.

Syekh Sudais tetap mendapatkan tugas untuk memimpin salat tahajud. Karena imam salat masjidil haram paling senior ini dikenal sebagai ahli dalam berdoa yang membuat siapapun akan meneteskan airmata. Biasanya doa itu dipanjatkan saat doa qunut pada salat witir 1 rakaat terakhir.

Sekadar tahu, doa qunut yang dipanjatkan imam salat masjidil haram antara 15 sampai 20 menit, sehingga 1 rakaat salat witir saja kadang menghabiskan waktu 25 sampai 30 menit. Anehnya, justru doa qunut inilah yang paling ditunggu-tunggu oleh jamaah sebagai sarana berdialog dengan Allah.

“Kendati tidak tahu artinya, tapi saya bisa ikut menangis,” ujar Ny Agustina, jamaah umrah yang masih mualaf, yang mengaku sempat bermimpi bertemu Yesus sebelum berangkat umrah. Kisahnya, ikuti edisi depan. 01. | sebelumnya 1 - 2- 3 |
 
 

   

 
Copyright © 2007 Tabloidnurani.com. All rights reserved
glow kanan