glow kiri
Tabloid Keluarga Muslim Terbesar
 
Haji dan Umrah
 
 

Catatan Perjalanan Umrah Ramadan 1428H (3)
Tertangkap Calo Buka Puasa

Oleh A. Bajuri
(wartawan NURANi)

Anda pernah pergi ke terminal bus? Mungkin begitulah sepintas gambaran suasana di Masjid Nabawi. Kalau kita masuk masjid menjelang buka puasa, jangan harap bisa tenang. Bak calo penumpang bus antarkota, kita akan ditarik paksa orang Arab untuk berbuka puasa.

SORE hari bakda Asar, jamaah Panglima Tour Surabaya memasuki hari pertama di Madinah. Setelah pagi harinya berziarah ke Makam Rasul, Raudah dan Makam Baqi’, maka sorenya tidak ada jadwal kegiatan. Sebagai TL (Tour Leader), saya menganjurkan jamaah untuk ikut buka puasa di Masjid Nabawi.

Sebelumnya saya jelaskan, buka puasa di Arab tidak seperti di Indonesia. Buka puasa di Arab bukanlah makan malam. Tapi hanya sekadar makanan ringan. Anggap saja dessert-nya (makanan pembuka). Menunya, kurma setengah matang (ruttob), yoghurt, roti tawar, kadang ditambah kismis, dan tak lupa minuman hangat kopi Arab (qahwah) atau teh Arab (Syae).

”Apa semua jamaah boleh menikmati buka puasa tersebut? Apa juga gratis?” tanya Arif Nurrokhman dari Crystal Multimedia Center, peserta umrah yang sekaligus menjadi petugas dokumentasi visual (video & foto) Panglima Tour. Arif memang sudah haji beberapa kali dan umrah, namun baru kali ini ikut umrah Ramadan.

Saya tidak segera menjawab pertanyaan Pak Arif. Pikir saya, biar dia langsung melihat sendiri. Dan benar. Ketika waktu buka puasa sudah dekat, Pak Arif dan temannya sekamar, Totok, saya ajak bergegas ke Masjid Nabawi. Matahari masih menyengat karena suhu di siang hari mencapai 39 derajat celcius. Namun, kami bertiga terus melangkah cepat menuju pintu utama Masjid Nabawi.

Apa yang terjadi? Hanya beberapa meter sebelum pintu Nabawi, seseorang menarik tangan saya. Juga menarik tangan Arif dan Totok. Seseorang itu dengan isyarat tangannya, mengajak untuk buka puasa bersama. Tapi karena niat sebelumnya harus buka puasa di dalam masjid, maka saya menolak dengan halus. ”Afwan, syukron (maaf, terima kasih).”

Langkah kami semakin cepat. Hampir-hampir setengah berlari. Saya lihat Pak Arif dan Pak Totok mengimbangi langkah seribu saya. Berkali-kali tangan saya ditarik, berkali-kali pula saya bilang, afwan, syukron. Akhirnya, tepat di bawah payung raksasa di dalam Masjid Nabawi -payung otomatis yang bisa membuka dan menutup sendiri itu- kami bertiga tertangkap orang besar dengan senyumnya yang ramah. Tangannya begitu kuat mencengkeram bahu saya. Berkali-kali saya lepas, tapi tak mampu juga. Kami pun menyerah. Harus duduk di depan makanan buka puasa yang sudah mereka sediakan.

Kami bertiga dilayani. Diambilkan minum, mulai Zamzam, kopi, dan teh Arab. Roti khusus pun disediakan, termasuk kurma ruttob. Dan tidak ketinggalan, yoghurt yang kalau boleh saya jujur, baunya sungguh tidak enak dan rasanya seperti santan busuk. Pak Arif sempat bertanya, bagaimana cara makannya? Saya jawab, kita berada di Arab, ya mungkin perut kita menyesuaikan dengan perut orang Arab.

”Kalau perut saya protes bagaimana?” tanya Pak Arif dengan nada kelakar. Waktu terus berjalan dan azan berkumandang. Segera ruttob dilahap. Rasanya sih biasa, seperti kurma kebanyakan. Hanya kurmanya tidak lembek. Apalagi baru keluar dari fresher. Kami bertiga sungguh amat menikmatinya.

Namun ketika giliran membuka yoghurt yang harus dicampur dengan adonan bumbu (khas Arab seperti rempah-rempah halus yang sudah dilembutkan), hampir-hampir tidak bisa memakannya. Apalagi melihat orang Arab dengan lahapnya mencuil roti, lalu dicelupkan ke yoghurt itu. Pak Arif dan Pak Totok ikut mencicipinya. Keduanya, tidak berkomentar apa pun. Hanya saling pandang, lalu kelihatan ”nyengir”.

Ternyata bukan hanya Pak Totok dan Pak Arif, jamaah lain pun yang ikut berbuka di Masjid Nabawi ikut merasakan keanehan di lidahnya. Misalnya, kopi yang tidak seperti Indonesia dan teh yang serasa rempah-rempah menyengat. Pak Bambang, Pak Syamsul, Pak Ghozi, dan jamaah lain terpaksa harus merasakannya walau akhirnya ada yang mengaku ”kapok” tidak akan mencoba minum teh Arab lagi.

Mengapa ”calo buka puasa” di Masjid Nabawi tumbuh subur? Mudah saja jawabnya, karena semua orang ingin sedekah di bulan Ramadan. Dan karena Rasulullah bersabda, siapa yang memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa, maka orang tersebut mendapatkan pahala puasa tanpa mengurangi pahala orang yang diberi buka tersebut.

Tidak hanya itu, sedekah di bulan Ramadan akan dilipatgandakan. Tidak hanya 10 kali lipat, namun sampai 700 kali lipat. Bahkan ada yang meyakini pula bahwa kalau sedekahnya dilakukan di dalam Masjid Nabawi, maka 700 kali lipat tersebut dikalikan lagi 1000 kali. Karena dianalogikan (di-qiyaskan), salat di Masjid Nabawi akan dilipatgandakan menjadi 1000 kali.

Kalau di Masjid Nabawi, sebagian orang merasa terganggu dengan ”calo buka puasa” tersebut, maka di Masjidilharam Makkah suasana buka puasanya berbeda. Khusus untuk tahun ini, tarik menarik jamaah sudah tidak ada lagi. Bahkan, pembagian makanan gratis yang biasa kita sebut ”sedekah sabilillah”, sudah menghilang.

Saya mencoba mencari informasi, mengapa sudah tidak ada lagi ”calo buka puasa” seperti tahun lalu? Ternyata, ada aturan baru di Makkah bahwa kalau mau sedekah buka puasa harus langsung disalurkan ke sebuah Yayasan Alkhoiriyah yang didirikan pemerintah. Bahkan, ada peraturan ketat, siapa yang ketahuan membagi makanan gratis di sekitar Masjidilharam akan ditangkap.

Kendati demikian, buka puasa di Masjidilharam tetap ramai dan gratis. Semuanya disediakan oleh Yayasan Alkhoiriyah tersebut. Saya dan jamaah pun menikmati buka puasa gratis tersebut. Hanya saja, sekarang di dalam masjid dilarang membawa makanan roti dan sejenisnya. Yang diperbolehkan hanya kurma. Selebihnya, harus dimakan di halaman Masjidilharam.
Apakah Anda mau tertangkap ”calo buka puasa” juga? 01

 
 

   

 
Copyright © 2007 Tabloidnurani.com. All rights reserved
glow kanan