glow kiri
Tabloid Keluarga Muslim Terbesar
 
Haji dan Umrah
 
 

Catatan Perjalanan Umrah Ramadan 1428H (2)
Masjidilharam Padat, Iktikaf Bawa Bantal

Oleh A. Bajuri
(wartawan NURANi)

Umrah di akhir Ramadan harus banyak bersabar. Satu di antaranya harus rela berdesakan masuk Masjidilharam. Apalagi, banyak jamaah yang mengejar Lailatulkadar dengan beriktikaf dan bermalam sehingga banyak tempat salat yang sudah ‘dikapling’ dengan kasur dan bantal.

MASUK Makkah pada 10 hari akhir Ramadan, sungguh dibutuhkan kesabaran. Suasana haji sangat terasa. Kemacetan di mana-mana. Jalan-jalan ditutup untuk kendaraan. Polisi lalulintas banyak memberikan akses kepada pejalan kaki. Suasana semakin ramai bila mendekati waktu salat fardu. Seluruh jalan menuju Masjidilharam seakan penuh dengan manusia dengan satu tujuan.

Kemacetan bukan hanya dialami kendaraan. Pejalan kaki pun mengalaminya. Ini terjadi ketika halaman Masjidilharam sudah penuh. Kemudian jamaah yang tidak mau berdesakan ke masjid, langsung menggelar sajadahnya di jalan. Tentu saja, akses ke masjid menjadi sempit. Pejalan kaki pun tidak bisa cepat sampai ke masjid. Ketika ikamah, tanda salat dimulai, berebutan jamaah menggelar tikar di tempat mereka berdiri. Bisa di jalanan berdebu, di depan toko, atau di antara tumpukan kardus dan sampah.

Saya bersama jamaah umrah Panglima Tour baru saja turun dari bus, tepat menjelang Magrib, segera masuk hotel dan bersiap menunggu waktu berbuka. Sebelumnya saya umumkan bahwa umrah akan dilakukan sesudah salat Isya. Jadi, jamaah harus sudah berkumpul 1 jam sebelum Isya untuk mencari tempat salat Isya yang dekat dengan pelataran tawaf.

Begitu waktu menunjukkan pukul 19.30 atau 45 menit sebelum Isya karena Isyanya pukul 20.15 WAS (Waktu Arab Saudi), jamaah mulai bergerak menuju Masjidilharam. Ustad Moerjani dan Ustad Jawari yang menjadi mutawif (guide) malam itu langsung mengantisipasi kemungkinan kesulitan menuju ke pelataran tawaf.
“Kita harus lewat jalan tikus,” kata Ustad Jawari.

Jamaah ada yang ragu dan bertanya, mungkinkah ada jalan tikus di Masjidilharam?
Saya langsung paham. Pasti maksudnya adalah jalan alternatif untuk bisa menembus ratusan ribu jamaah yang memadati Masjidilharam. Benar perkiraan saya, kedua ustad tersebut menyusuri jalan yang jarang diketahui jamaah kebanyakan. Awalnya berdesakan di halaman masjid, namun begitu memasuki jalan yang dimaksud, tiba-tiba sudah sampai di dekat pelataran tawaf.

Alhamdulillah, kita bisa sampai di dekat pelataran tawaf. Sehingga, sehabis salat Isya, kita langsung bisa menembus ke pelataran tawaf,” ujar Totok, jamaah asal Surabaya.
Lokasi jalan tikus adalah di sebelah kiri pintu King Fahd, ada tangga turun. Masuk saja lewat basement, sekitar 200 meter lagi akan tembus lantai basement dekat lantai sofa (tempat awal sai). Setelah naik tangga, langsung kelihatan Kakbah.

Malam itu, suasana sangat padat. Namun, tawaf dijalani dengan amat lancar. Beberapa jamaah sempat terpisah, namun akhirnya bisa bertemu satu sama lain. Namun, hampir semua merasakan kelelahan luar biasa. Kepadatan tempat sai sungguh sangat menguras tenaga.

“Saya terpaksa berhenti, karena saya sai sambil menggendong anak,” ujar Neneng, seorang jamaah yang memang membawa anaknya yang masih usia 2 tahun. Sekitar 3 jam kemudian, jamaah sudah mulai pulang hotel. Saya mencoba melihat lagi jalan tikus yang dilewati para mutawif tadi. Bukan main, tempat ini begitu sepinya. Sangat cocok untuk iktikaf, karena tempatnya sejuk, AC-nya tidak terlalu dingin, dan ada lokasi Air Zamzam yang bisa dipakai berwudu darurat oleh para jamaah.

Mengapa disebut “wudu darurat”, karena memang sebenarnya kran-kran Zamzam ini hanya untuk minum. Namun, bagi jamaah yang sudah telanjur berada di dalam masjid, untuk mencari toilet harus berjalan cukup jauh di halaman. Akhirnya, mereka wudu darurat. Air diambil di gelas plastik, lalu disiramkan ke wajah sedikit. Kemudian diratakan dengan air. Begitu juga ketika membasuh tangan, rambut, dan kaki.

Dugaan saya benar, tempat ini ternyata menjadi tempat favorit bagi jamaah yang ingin menginap di Masjidilharam. Setelah malam tiba. Saya lihat banyak jamaah menggelar sajadah, karpet, bahkan ada yang membawa kasur dan bantal. Mereka seakan mengapling tempat tersebut untuk tempat tidurnya. Di sebuah tiang juga saya lihat 2 hanger dengan 2 gamis menggelantung.

Apakah tidak dirazia oleh petugas keamanan (askar) Masjidilharam?
“Di sini jarang ada pengawasan. Itu sebabnya, banyak jamaah yang mnggunakan tempat ini sebagai penginapan,” kata Jawari, guide Panglima Tour & Linda Jaya yang sudah ada di Arab Saudi sejak 30 tahun silam ini.

Ia pun brcerita, di kalangan guide atau pelajar Indonesia yang belajar di Makkah, tempat ini disebut sebagai “Alharam Intercontinental”. Maksudnya, tempat penginapan paling nyaman di Masjidilharam. Intercontinental mengambil nama dari sebuah hotel bintang lima yang berada persis di depan masjidilharam, Darut Tauhid Intercontinental. Jawari mengaku, dulu tiap 10 terakhir Ramadan, dia dan teman-temannya memanfaatkan tempat ini untuk iktikaf.

Ia pun membawa selimut dan ganti pakaian. Di tempat inilah para jamaah juga memanfaatkan untuk iktikaf sekaligus menginap. Itu sebabnya, tidak aneh bila ada yang sampai membawa kasur dan bantal.

“Biasanya, kami dan teman-teman bisa khatam Alquran berkali-kali di tempat ini. Malam seakan siang, karena diisi dengan salat dan baca Alquran, sedangkan siangnya dijadikan malam. Karena hampir seluruh waktu dimanfaatkan untuk tidur.

Kebiasaan tidur pada pagi hari di bulan Ramadan ternyata menjadi kebiasaan orang Arab. Biasanya, usai salat subuh, mereka menggulung sebagian karpet Masjidilharam untuk dijadikan bantal. Setelah itu, mereka tiduran. Maka jangan heran, bila habis salat subuh di Masjidilharam seakan penuh dengan jamaah yang tidur dengan suara dengkur yang saling bersahutan. Padahal tidur di Masjidilharam pada hari selain Ramadan, sangat dilarang. Kecuali tidur dengan posisi duduk.

Kalau pagi dan siang terlihat penuh orang tidur, maka pada malam harinya berbeda. Masjidilharam dengan luas 328.000 meter persegi yang bisa menampung lebih dari 2 juta orang itu penuh dengan manusia yang beribadah. Ada yang terus membaca Alquran, ada yang salat, dan ada pula yang tawaf dan sai.

Pendek kata, umrah Ramadan kali ini persis dengan pernyataan Rasulullah bahwa melaksanakan umrah di bulan Ramadan sama pahalanya seperti haji bersama beliau. Semoga mereka semua yang berumrah Ramadan bisa mendapatkan pahala haji. Amiin. 01

 
 

   

 
Copyright © 2007 Tabloidnurani.com. All rights reserved
glow kanan