Catatan Perjalanan Umrah Ramadan 1428H (1)
Ajak ”Mokel” Berjamaah, Tapi Tidak Digubris
Oleh A. Bajuri
(wartawan NURANi)
Perjalanan umrah di bulan Ramadan bak berlomba menjaring Lailatulkadar. Banyak hal menarik yang bisa menjadi bahan renungan. Satu di antaranya adalah betapa sulitnya mengajak peserta umrah untuk ”mokel” (batal puasa) berjamaah. Mengapa?
Minggu siang, 23 September, saya bersama jamaah umrah Panglima Tour Surabaya berada di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang. Karena program ini kerjasama dengan NURANi, maka saya ditunjuk menjadi TL (tour leader/ kepala rombongan). Sebagaimana biasa, sebelum naik pesawat, TL bertugas memberikan arahan sekaligus membagi tiket pesawat.
Setelah saya ingatkan tentang doa perjalanan dan salat jamak ta’khir, saya pun tak lupa mengingatkan tentang dispensasi (rukhsoh) dari Allah untuk tidak berpuasa.
”Kita termasuk musafir. Perjalanan kita pun untuk ibadah. Jadi, kalau mau ”mokel”, silakan dilakukan sekarang. Mumpung di bandara dan masih banyak makanan,” ujar saya.
Ketika saya berbicara, ada yang nyeletuk, ”Itu namanya mengajak ”mokel berjamaah”,” ujar seorang jamaah dengan nada tertawa.
Saya tidak menolak sebutan itu. Saya setuju saja. Karena semua itu demi menjaga kesehatan jamaah. Buat apa dipaksakan kalau akhirnya sakit di Tanah Suci. Lalu tidak bisa menjalankan ibadah. Untuk menegaskan ajakan ”mokel” itu, saya beritahukan bahwa kalau diteruskan puasa, konsekuensinya agak berat. Buka puasanya harus mengikuti waktu saat pesawat tersebut berada.
Berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, buka puasa baru dilakukan 1 jam sebelum pesawat landing. Itu berarti, waktu puasa bertambah 4 jam. Karena pesawat berjalan ke arah barat dan mengejar matahari, maka selama perjalanan, langit akan kelihatan cerah dengan sinar matahari yang selalu kelihatan.
”Kalau siap nambah 4 jam, silakan diteruskan puasanya,” tegas saya.
Semua terdiam. Mungkin bingung. Enaknya, terus atau tidak. Karena kalau ”mokel”, maka harus meng-qodo’ di hari lain. Tapi kalau tidak ”mokel”, kok harus nambah 4 jam lagi. Tiba-tiba, ada yang bertanya, ”Kalau Sampeyan ”mokel” apa tidak?”
Awalnya saya kaget mendengar pertanyaan itu. Sebenarnya saya akan menjawab, saya tetap puasa. Tapi seperti juga Ramadan tahun lalu, ternyata ada jamaah yang memaksakan ikut puasa. Sayangnya, buka puasanya tidak mengikuti jam setempat, melainkan ikut jam buka puasa Indonesia.
Akhirnya saya jawab, ”Ya, saya ”mokel” sekarang.”
Siapa sangka, jawaban saya tak bersambut. Semua masih diam. Hanya Ny Nuraningsih yang bertanya, ”Apa alasannya tidak boleh buka ikut Indonesia?” Pertanyaan ini sangat saya tunggu. Saya jelaskan bahwa buka puasa itu harus berdasarkan matahari. Karena puasa itu definisinya, tidak makan minum seharian mulai terbit sampai tenggelam matahari. Padahal, saat kita buka puasa pukul 17.30 WIB tersebut, waktu setempat menunjukkan pukul 14.30, yang tentu saja matahari masih kelihatan terang.
Bukan hanya itu, logikanya kalau kita buka puasa pada pukul 17.30 WIB, berarti seharusnya kita juga harus salat Magrib. Padahal, sangat tidak mungkin untuk melakukan salat Magrib ketika matahari masih kelihatan terang benderang.
Penjelasan saya akhirnya sedikit melegakan jamaah. Tapi tetap ada juga yang nekat berpuasa. Hanya sebagian kecil yang mau ”mokel” berjamaah. Tak berapa lama, pesawat Garuda take-off, setelah delay 1 jam. Semua naik pesawat dan semua jamaah tertidur lelap.
Beberapa jam kemudian, pramugari Garuda menyapa lembut seorang jamaah.
“Maaf ibu, mau buka sekarang atau nanti?” ujar pramugari.
Sang jamaah umrah ini ragu menjawabnya. Dalam hatinya timbul pertanyaan, lho emangnya boleh buka puasa sekarang. Kok kata tour leader-nya tadi harus nambah 4 jam. Mana yang benar? Si jamaah umrah pun balik bertanya, “Emangnya boleh buka puasa sekarang?”
Seorang ustad yang mendengar dialog pramugari dan peserta umrah itu langsung menyela, “Mbak, kenapa Anda menyuruh buka puasa sekarang? Apa Anda yang nanti menanggung qodo’ (mengganti) puasanya?” ujar sang ustad.
Kelihatannya sang pramugari menyadari kesalahannya. Ia pun segera mengubah cara penawaran makanannya. Tapi masih juga kurang sempurna. Karena pramugari itu mengatakan, ”Bapak-ibu makan apa?” Andaikan sang pramugari sedikit menyempurnakan pertanyaannya, pasti lebih baik dan siapapun tidak akan tersinggung dan tidak bingung. Misalnya. dengan bertanya, ”Apa bapak-ibu berpuasa?” Kalau dijawab ”tidak”. Maka, baru disuruh memilih menu makanannya.
Kisah ”mokel” berjamaah ini menjadi topik diskusi jamaah umrah selama di Madinah. Setelah berziarah ke Raudah (taman surga), makam Rasulullah dan makam baqi’, jamaah berkumpul di restoran. Saya mulai mengupas habis soal mengapa kita harus ”mokel”. Dalam Alquran (Surat Albaqarah: 183), Allah membolehkan tidak berpuasa bagi orang yang sakit dan bepergian. Bahkan Allah menyebut kebolehan tidak puasa itu 2 kali. Pada ayat kedua ini, dijelaskan tentang maksudnya, yaitu memberikan kemudahan, bukan kesulitan.
Andaikan, jamaah mau mengikuti Alquran, mungkin tidak akan muncul kesulitan dalam menentukan kapan waktu buka puasa. Keraguan pun tidak ada dan tentu saja tidak sampai terjadi salah paham antara pramugari dan penumpang.
Pesawat terus melaju di atas ketinggian 11.000 meter dengan kecepatan 900 km/jam dan pramugari pun terus membagikan makanan bagi yang tidak puasa. Tiba-tiba saya melihat banyak jamaah yang ikut minta makanan dan mengikuti jam buka puasa Indonesia. Ketika saya tanya, kok ”mokel”? Alasannya bermacam-macam. Ada yang bilang, takut maag-nya ”kumat”, takut darah tingginya naik, takut tipesnya kambuh, kepalanya pusing dll.
Akhirnya ”mokel berjamaah” itupun terjadi juga, hanya saja tempatnya di atas pesawat. ”Nunggu makan gratis, kali. He... he...” 01